Pemkab KotimPendidikan

Sekolah Rakyat Kotim Targetkan Lahirkan Agen Perubahan, Kepala Sekolah: Bukan Sekadar Tempat Belajar

×

Sekolah Rakyat Kotim Targetkan Lahirkan Agen Perubahan, Kepala Sekolah: Bukan Sekadar Tempat Belajar

Sebarkan artikel ini
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 55 Kotawaringin Timur, Nikkon Bhastari. (ist)

Sampit, Nusaborneo.com – Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 55 Kotawaringin Timur, Nikkon Bhastari, menegaskan Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan hidup peserta didik sebagai bekal memutus rantai kemiskinan.

Hal itu disampaikan Nikkon saat Open House dan Pra-Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (Pra-MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di kampus permanen Sekolah Rakyat 55 Kotawaringin Timur, kawasan Wengga Metropolitan, Baamang Barat, Kamis (30/7/2026).

Menurut Nikkon, kehadiran Sekolah Rakyat di Kotawaringin Timur merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Sosial, Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, serta berbagai pemangku kepentingan.

“Program ini menjadi amanah besar untuk mencerdaskan anak-anak bangsa sekaligus membuka jalan bagi mereka agar memiliki masa depan yang lebih baik,” kata Nikkon

Ia menjelaskan, Open House digelar untuk memperkenalkan lingkungan sekolah sekaligus membangun kepercayaan orang tua terhadap sistem pendidikan yang diterapkan. Sementara Pra-MPLS dilaksanakan pada gelombang kedua agar peserta didik dapat mengikuti kegiatan dengan aman dan nyaman karena proses penyempurnaan kawasan sekolah masih berlangsung. Seluruh pembiayaan program ditanggung oleh Kementerian Sosial RI.

Pada tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat 55 Kotawaringin Timur menerima 270 siswa baru. Jumlah tersebut terdiri dari 50 siswa SD, 117 siswa SMP, dan 103 siswa SMA, ditambah sejumlah peserta didik cadangan. Mereka akan bergabung dengan 100 siswa angkatan sebelumnya.

Nikkon menegaskan, sekolah menerapkan sistem pembinaan berbasis tiga pilar, yakni guru sebagai pendidik akademik, wali asrama yang membina kehidupan peserta didik di lingkungan asrama, serta wali asuh yang memberikan pendampingan secara personal.

“Sekolah ini bukan sekadar tempat transfer ilmu. Kami ingin membentuk karakter, mentalitas, dan keterampilan hidup agar anak-anak memiliki pola pikir yang tangguh menghadapi masa depan,” ujarnya.

Selain pembelajaran, sekolah juga menerapkan sistem poin apresiasi dan penegakan disiplin. Peserta didik yang berprestasi akan mendapat pembinaan lanjutan hingga peluang melanjutkan pendidikan ke sekolah unggulan maupun perguruan tinggi terbaik.

Nikkon mengajak pemerintah daerah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci agar tujuan mencetak generasi berkarakter sekaligus agen perubahan bagi keluarga miskin dapat terwujud. (Red)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *