Palangka Raya, Nusaborneo.com – Rintik hujan yang turun sejak sore tak menyurutkan langkah warga untuk tetap berkumpul di Bundaran Besar Palangka Raya, Jumat malam (20/3/2026). Di tengah basahnya jalan dan payung yang bertebaran, gema takbir justru terasa lebih syahdu, mengalun dari hati yang penuh rasa syukur.
Di antara kerumunan, anak-anak terlihat antusias meski pakaian mereka sedikit basah. Beberapa orang tua menggandeng tangan buah hati mereka, memastikan tetap aman di tengah keramaian.
Ada pula remaja sampai orang dewasa yang tetap semangat menghias kendaraan pawai dengan lampu warna-warni, meski harus berulang kali mengelap air hujan dari dekorasi.
Malam itu, bukan sekadar pawai. Ia menjadi ruang perjumpaan, antara harapan, kebersamaan, dan rasa lega setelah sebulan penuh menahan diri di bulan Ramadan.
Di atas panggung sederhana, berdiri Gubernur H. Agustiar Sabran didampingi Wagub Edy Pratiwi bersama Kepala OPD dan unsur Forkopimda. Dengan pengibaran bendera pawai resmi dimulai. Namun yang lebih terasa bukan seremoni itu sendiri, melainkan suasana batin yang menyelimuti ribuan warga.
Dalam sambutannya, Gubernur Kalteng, H. Agustiar Sabran mengingatkan bahwa takbir bukan sekadar lantunan, melainkan simbol kemenangan spiritual. Tapi di balik kata-kata itu, suasana malam justru berbicara lebih dalam: tentang ketulusan masyarakat menjaga tradisi, bahkan di bawah hujan.
Di sudut jalan, seorang pedagang kaki lima tetap melayani pembeli dengan senyum. “Hujan rezeki juga,” ujarnya.
Pesan tentang kesantunan, keselamatan, dan kebersihan yang disampaikan pemerintah terasa hidup dalam tindakan nyata masyarakat. Tak ada dorong-dorongan, tak ada keluhan berarti, yang ada justru saling membantu, berbagi tempat berteduh, dan menjaga suasana tetap damai.
Nilai Huma Betang, hidup dalam kebersamaan dan toleransi, seakan hadir nyata malam itu, bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai praktik sehari-hari warga Kalimantan Tengah.
Saat pawai usai dan para pemenang diumumkan, sorak sorai tetap terdengar. Namun yang lebih membekas bukan siapa yang juara, melainkan bagaimana malam itu menjadi milik semua orang tanpa sekat.
Hujan perlahan reda. Jalanan masih basah, tetapi hati terasa hangat.
Di kota ini, Idulfitri tak hanya datang dengan gema takbir, tetapi juga dengan cerita-cerita kecil tentang keteguhan, kebersamaan, dan harapan baru. (Red/am)













