Sampit, Nusaborneo.com – Warga di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, dibuat waswas setelah kemunculan satwa liar dilindungi meningkat dalam beberapa hari terakhir. Dalam kurun 10 hari, sedikitnya empat kejadian kemunculan orangutan dan beruang madu dilaporkan masuk ke area perkebunan hingga mendekati permukiman warga.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mencatat kemunculan satwa tersebut terjadi di beberapa lokasi berbeda, mulai dari kawasan perkebunan sawit hingga pekarangan rumah warga.
Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, mengatakan peningkatan aktivitas satwa liar ini diduga dipengaruhi oleh musim berbuah serta semakin terbatasnya sumber pakan di habitat alami mereka.
“Selama 10 hari terakhir ada beberapa laporan terkait kemunculan orangutan dan beruang madu di wilayah Kotim. Kami langsung melakukan pemantauan dan langkah mitigasi di lapangan,” kata Muriansyah.
Salah satu kejadian terjadi di kawasan Jalan Jenderal Sudirman Km 18 Sampit. Seekor orangutan jantan dewasa terlihat berada di area perkebunan kelapa sawit milik warga yang berbatasan dengan kawasan hutan.
Keberadaan satwa tersebut pertama kali dilaporkan setelah warga merasa khawatir saat beraktivitas di sekitar kebun. Informasi kemudian diteruskan kepada petugas untuk ditindaklanjuti.
Tak hanya di Sampit, laporan serupa juga datang dari Kecamatan Cempaga. Warga Desa Luwuk Ranggan mengaku beberapa kali melihat orangutan dan beruang madu muncul di sekitar area perkebunan mereka.
Sementara di Desa Sungai Paring, seekor beruang madu bahkan sempat mendekati kawasan permukiman. Satwa itu dilaporkan memanjat pohon buah yang berada tepat di belakang rumah warga pada pagi hari.
Kondisi tersebut membuat masyarakat khawatir, terutama terhadap keselamatan anak-anak yang kerap beraktivitas di sekitar lingkungan rumah.
Menanggapi situasi itu, BKSDA Resort Sampit segera melakukan upaya mitigasi. Selain memberikan edukasi kepada warga agar tidak mengganggu atau melukai satwa dilindungi, petugas juga memasang perangkap pemantauan di sejumlah titik yang dianggap rawan.
“Pemasangan perangkap dilakukan untuk memantau pergerakan satwa dan memudahkan proses evakuasi apabila diperlukan,” ujarnya.
Menurut BKSDA, meningkatnya kemunculan orangutan dan beruang madu di sekitar aktivitas manusia berkaitan erat dengan musim buah yang sedang berlangsung. Aroma dan ketersediaan makanan di kebun warga menarik satwa keluar dari kawasan hutan.
BKSDA mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, menjaga jarak aman jika bertemu satwa liar, serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan orangutan maupun beruang madu di sekitar permukiman.
Langkah cepat dan koordinasi antara warga dengan petugas dinilai penting untuk mencegah konflik yang dapat membahayakan manusia maupun satwa yang dilindungi tersebut. (red*/jn)













