Palangka Raya, Nusaborneo.com – Potensi musim kemarau yang lebih kering akibat fenomena El Nino pada paruh kedua 2026 mulai menjadi perhatian berbagai pihak di Kalimantan Tengah. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun diingatkan agar tidak dianggap sepele.
Anggota DPRD Kalimantan Tengah, Faridawaty Darland Atjeh, mengajak masyarakat, pemerintah daerah, hingga dunia usaha untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah pencegahan sejak dini guna menghindari terulangnya bencana kabut asap seperti yang pernah terjadi di masa lalu.
Menurut Faridawaty, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak luas terhadap kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kesiapsiagaan harus menjadi prioritas sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Jangan menunggu titik api bermunculan baru bertindak. Pencegahan harus dilakukan sejak awal,” ujarnya, Minggu (14/6/2026).
Ia menilai pemerintah kabupaten dan kota perlu memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi musim kemarau tahun ini. Kesiapan personel, sarana pemadaman, patroli di kawasan rawan, serta pemantauan titik panas harus dilakukan secara berkelanjutan.
Selain itu, Faridawaty menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mencegah karhutla. Edukasi terkait bahaya membuka lahan dengan cara membakar dinilai harus terus digencarkan agar kesadaran warga semakin meningkat.
“Kesadaran masyarakat menjadi garda terdepan dalam pencegahan karhutla. Sosialisasi harus terus dilakukan agar tidak ada lagi praktik pembakaran lahan yang berisiko memicu kebakaran lebih besar,” katanya.
Tak hanya masyarakat, ia juga meminta perusahaan di sektor perkebunan, kehutanan, dan pertambangan untuk meningkatkan pengawasan di wilayah operasional masing-masing. Menurutnya, pelaku usaha memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga lingkungan dan mencegah munculnya titik api di area konsesi.
Faridawaty menegaskan keberhasilan pengendalian karhutla hanya bisa dicapai melalui kerja sama seluruh pihak, mulai dari pemerintah, aparat TNI-Polri, perusahaan, hingga masyarakat di tingkat desa.
“Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi yang kuat agar potensi kebakaran dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat sebelum meluas,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan bahwa upaya pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan saat kebakaran sudah terjadi. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diminta tetap waspada dan tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun.
“Menjaga Kalimantan Tengah dari ancaman karhutla adalah tanggung jawab bersama. Apa yang kita lakukan hari ini akan menentukan keselamatan lingkungan dan masyarakat di masa mendatang,” pungkasnya. (red/yd)













