DPRD Barut

Usai Lebaran, Harapan Warga Desa Mengalir dalam Reses DPRD di Teweh Tengah

×

Usai Lebaran, Harapan Warga Desa Mengalir dalam Reses DPRD di Teweh Tengah

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Kab. Barito Utara, H Taufik Nugraha saat melaksanakan reses Dapil 1 Barito Utara Kecamatan Teweh Tengah di Desa Rimba Sari, Kamis (26/3/2026). (ist)

Muara Teweh, Nusaborneo.com – Suasana hangat pasca Hari Raya Idul Fitri masih terasa ketika warga di Kecamatan Teweh Tengah berkumpul dalam sebuah pertemuan sederhana namun penuh makna. Di tengah kebersamaan itu, Anggota DPRD Kabupaten Barito Utara, H Taufik Nugraha, hadir untuk mendengar langsung cerita dan harapan masyarakat melalui agenda reses, Kamis (26/3/2026).

Bagi warga, pertemuan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang untuk menyampaikan kebutuhan yang selama ini mereka rasakan sehari-hari. Jalan yang belum tuntas, hasil panen yang belum maksimal, hingga harapan akan kehidupan yang lebih baik, mengalir dalam dialog yang berlangsung terbuka.

Salah satu suara yang paling kuat datang dari kebutuhan akses jalan penghubung antara Desa Sei Rahayu I dan Desa Rimba Sari. Jalan tersebut bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga menjadi nadi bagi aktivitas ekonomi warga. Ketika jalan sulit dilalui, hasil pertanian pun terhambat untuk dipasarkan.

“Kalau jalannya bagus, kami lebih mudah membawa hasil panen keluar,” ungkap seorang warga, menggambarkan betapa pentingnya infrastruktur bagi kehidupan mereka.

Tak hanya itu, para petani juga menyampaikan harapan akan bantuan bibit dan pupuk. Mereka berharap adanya dukungan nyata agar hasil pertanian seperti padi, jagung, dan kelapa sawit bisa meningkat, sehingga mampu menopang kebutuhan keluarga.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, H Taufik Nugraha menegaskan bahwa reses menjadi momen penting untuk memastikan suara masyarakat tidak berhenti di tingkat desa, tetapi bisa diperjuangkan hingga ke meja kebijakan.

“Yang kami dengar hari ini adalah kebutuhan nyata masyarakat. Infrastruktur jalan dan dukungan pertanian akan kami dorong agar bisa masuk dalam prioritas pembangunan daerah,” ujarnya.

Ia juga memahami bahwa bagi masyarakat desa, pembangunan bukan sekadar proyek, melainkan harapan akan perubahan hidup. Jalan yang layak akan membuka akses, sementara pertanian yang kuat akan menjaga ketahanan ekonomi keluarga.

Pertemuan itu pun ditutup dengan harapan yang sama: agar setiap aspirasi yang disampaikan tidak hanya menjadi catatan, tetapi benar-benar diwujudkan. Di balik obrolan santai dan suasana kekeluargaan, tersimpan keyakinan bahwa perubahan bisa dimulai dari mendengar. (red/at)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *