Pemkab Kotim

Kemarau Panjang Picu Krisis Air Bersih di 4 Kecamatan, Pemkab Kotim Salurkan Bantuan

×

Kemarau Panjang Picu Krisis Air Bersih di 4 Kecamatan, Pemkab Kotim Salurkan Bantuan

Sebarkan artikel ini
Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor.

Sampit, Nusaborneo.com – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut paling dirasakan masyarakat di empat kecamatan yang berada di wilayah selatan Kotim, yakni Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Teluk Sampit, dan Pulau Hanaut.

Warga di sejumlah desa di kawasan tersebut dilaporkan telah mengalami kesulitan mendapatkan air bersih selama lebih dari satu bulan.

Kekeringan membuat sumur dan anak-anak sungai yang selama ini menjadi sumber air warga mengalami pendangkalan. Kondisi sumber air yang semakin terbatas membuat kebutuhan sehari-hari masyarakat menjadi terganggu.

Di sisi lain, kualitas air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga mengalami perubahan sehingga tidak lagi optimal digunakan masyarakat.

Warga Sungai Ijum Raya, Laila, mengatakan kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan memperoleh air yang layak untuk kebutuhan sehari-hari.

Krisis air bersih semakin terasa karena wilayah selatan Kotim merupakan kawasan pesisir. Saat kemarau berkepanjangan, intrusi air laut membuat kualitas sumber air mengalami penurunan.

Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor mengatakan menurunnya kualitas air PDAM menjadi salah satu faktor yang menyebabkan warga mengalami krisis air bersih.

Menurut dia, kondisi tersebut terjadi karena sumber air baku PDAM yang berasal dari Sungai Mentaya telah bercampur dengan air laut.

“Air sungai yang menjadi sumber air baku PDAM sudah bercampur dengan air laut,” ujar Halikinnor, Kamis (17/9/2026).

Akibat kondisi tersebut, pemerintah daerah kemudian menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat yang terdampak.

Pada penyaluran terakhir, sebanyak 30.000 liter air bersih didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan warga di dua desa, yakni Desa Sungai Ijum Raya dan Desa Parebok.

Halikinnor memastikan distribusi air bersih akan terus dilakukan selama masyarakat masih membutuhkan bantuan.

Pemerintah daerah juga terus memantau kondisi di wilayah yang mengalami kekeringan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kemarau panjang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kemarau di Kotim tidak hanya berdampak pada meningkatnya ancaman karhutla, tetapi juga mulai menekan ketersediaan air bersih bagi masyarakat, terutama di wilayah pesisir bagian selatan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *