News

Operasi Patuh Telabang 2026 Dimulai, Polisi Sasar Pelanggaran Pemicu Kecelakaan

×

Operasi Patuh Telabang 2026 Dimulai, Polisi Sasar Pelanggaran Pemicu Kecelakaan

Sebarkan artikel ini
Wakapolda Kalteng Brigjen Pol Dr. Hendra Wirawan membuka Operasi Patuh Telabang 2026 di Lapangan Barigas Mapolda Kalteng, Palangka Raya, Senin (26/10/2026). (ist)

Palangka Raya, Nusaborneo.com – Polda Kalimantan Tengah (Kalteng) resmi menggelar Operasi Patuh Telabang 2026 mulai 26 Oktober hingga 8 November 2026. Selama 14 hari, polisi akan menyasar sejumlah pelanggaran lalu lintas yang berpotensi memicu kecelakaan, sekaligus mengajak masyarakat lebih disiplin dan mengutamakan keselamatan di jalan.

Operasi bertema ‘Polisi Bersama Masyarakat Mewujudkan Lalu Lintas yang Tertib, Aman, dan Berkeselamatan’ ini dibuka oleh Wakapolda Kalteng Brigjen Pol Dr. Hendra Wirawan yang mewakili Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan. Pembukaan berlangsung di Lapangan Barigas Mapolda Kalteng, Senin (26/10/2026).

Wakapolda Kalteng Brigjen Hendra mengatakan, operasi ini bertujuan meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap aturan lalu lintas. Upaya tersebut diharapkan dapat menekan angka pelanggaran dan kecelakaan, mengurangi fatalitas korban, serta menumbuhkan kesadaran bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab bersama.

Sebanyak 573 personel gabungan dikerahkan dalam operasi tersebut. Rinciannya, 108 personel Polda Kalteng, 415 personel dari Polres jajaran, dan 50 personel dari instansi terkait.

“Targetnya menurunkan angka pelanggaran dan kecelakaan, mengurangi fatalitas, serta meningkatkan disiplin masyarakat dalam berlalu lintas,” tegas Brigjen Hendra.

Operasi ini digelar di tengah meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas di Kalimantan Tengah. Berdasarkan data IRSMS Ditlantas Polda Kalteng, tercatat 920 kejadian kecelakaan selama Januari-September 2026.

Angka tersebut naik 10,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 833 kejadian. Jumlah korban meninggal dunia juga meningkat dari 207 orang menjadi 214 orang.

Data tersebut menjadi pengingat bahwa keselamatan di jalan bukan sekadar persoalan mematuhi aturan, melainkan juga menyangkut keselamatan jiwa pengendara dan pengguna jalan lainnya.

Brigjen Hendra mengatakan, pelaksanaan operasi kali ini turut mempertimbangkan kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat di jalan raya.

Karena itu, pendekatan humanis, persuasif, dan empatik akan dikedepankan dalam pelaksanaan operasi.

Sementara itu, Dirlantas Polda Kalteng Kombes Pol Yusep mengatakan, pihaknya akan mengintensifkan patroli secara maraton dan estafet, terutama di jalur-jalur rawan kecelakaan, termasuk kawasan Trans Kalimantan yang terdampak kabut tebal.

Selain patroli, petugas juga akan memberikan edukasi keselamatan berkendara atau safety driving kepada komunitas pengguna jalan.

Menurut Yusep, kabut asap perlu diwaspadai karena jarak pandang yang terbatas dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Kondisi tersebut juga berpotensi memicu kelelahan hingga microsleep atau kondisi tertidur singkat tanpa disadari saat berkendara.

“Kabut asap tidak menyebabkan lonjakan laka fatal, tapi jarak pandang terbatas bisa memicu kelelahan dan microsleep. Kewaspadaan harus ditingkatkan,” jelasnya.

Pengendara pun diimbau untuk menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan, menjaga jarak aman, serta tidak memaksakan perjalanan ketika tubuh mulai lelah atau jarak pandang terganggu.

Dalam Operasi Patuh Telabang 2026, penegakan hukum akan dilakukan secara tegas dan terukur dengan mengoptimalkan penggunaan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), baik melalui kamera statis maupun perangkat bergerak.

Sejumlah pelanggaran yang menjadi sasaran utama meliputi melawan arus, tidak menggunakan helm, balap liar, serta penggunaan knalpot tidak sesuai ketentuan atau knalpot brong.

Dirlantas menegaskan, keberhasilan operasi tidak semata-mata diukur dari banyaknya pengendara yang ditilang. Hal yang lebih penting adalah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tertib berlalu lintas dan berkurangnya angka kecelakaan.

“Keberhasilan operasi bukan dari banyaknya tilang, tapi dari turunnya angka kecelakaan dan meningkatnya kepatuhan masyarakat,” pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *