Pangkalan Bun, Nusaborneo.com – Bangunan bersejarah Astana Mangkubumi di Kabupaten Kotawaringin Barat kembali menampakkan kemegahannya usai melalui proses pemugaran. Peresmian hasil purna pugar tersebut digelar di Istana Mangkubumi, Kelurahan Raja, Kecamatan Arut Selatan, Jumat (12/12/2025).
Peresmian dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kotawaringin Barat, Muhammad Alamsyah, yang hadir mewakili Bupati Kotawaringin Barat Hj. Nurhidayah. Momen tersebut menjadi penanda selesainya upaya pelestarian salah satu situs penting dalam sejarah Kesultanan Kotawaringin.
Acara ini turut dihadiri Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIII Kalimantan Tengah, Riris Purbasari, serta Juriat Istana Kuning Pangeran Arsyadinsyah selaku pewaris istana dan tokoh adat yang selama ini berperan aktif dalam menjaga nilai-nilai sejarah dan budaya lokal.
Prosesi peresmian diawali dengan ritual adat Tepung Tawar Istana Kuning, sebuah tradisi sakral yang sarat makna. Ritual ini melambangkan ungkapan syukur atas rampungnya pemugaran sekaligus doa agar Astana Mangkubumi senantiasa terjaga, membawa keselamatan dan keberkahan sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi.
Mengusung tema “Binar Mutiara Rumah Pangeran Adipati Mangkubumi”, kegiatan purna pugar ini merefleksikan tekad untuk menghidupkan kembali kilau sejarah dan kebudayaan Kotawaringin Barat melalui pelestarian cagar budaya.
Dalam sambutan Bupati Kotawaringin Barat yang dibacakan oleh Kepala Disdikbud, ditegaskan bahwa pemugaran Astana Mangkubumi merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam merawat peninggalan sejarah sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat.
“Pelestarian bangunan bersejarah bukan sekadar menjaga fisik bangunan, tetapi juga melestarikan nilai adat, sejarah, dan jati diri daerah. Ini adalah investasi budaya bagi generasi mendatang,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.
Pemugaran Astana Mangkubumi dilaksanakan selama kurang lebih tiga bulan. Pekerjaan difokuskan pada perbaikan atap bangunan utama serta penguatan struktur lantai guna memastikan keamanan dan keberlanjutan bangunan. Kegiatan ini didukung anggaran sekitar Rp1,1 miliar yang bersumber dari APBN melalui program pelestarian cagar budaya.
Sebagai penutup rangkaian acara, panitia menggelar pameran sejarah, kajian naskah kuno, serta seminar manuskrip Kotawaringin. Kegiatan tersebut dirancang untuk memperluas wawasan masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai sejarah Kesultanan Kotawaringin dan pentingnya menjaga warisan budaya daerah.
Dengan selesainya pemugaran ini, Astana Mangkubumi diharapkan tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah, tetapi juga berkembang sebagai pusat edukasi budaya dan ruang pembelajaran yang menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap warisan leluhur Kotawaringin Barat. (red/gs)













