Palangka Raya, Nusaborneo.com – Kepungan asap dan kobaran api akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya tak menyurutkan keberanian Jali, siswa kelas VI SD NU Palangka Raya.
Usai mengikuti kegiatan belajar di sekolah, Jali justru mendatangi lokasi karhutla di kawasan Langkai Permai I, Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut.
Masih mengenakan seragam sekolah, Jali membawa garu sederhana dan ikut membantu petugas serta warga mengendalikan kobaran api agar tidak merembet ke permukiman.
Di tengah kepulan asap, bocah tersebut tampak menyisir semak-semak yang berpotensi menjadi jalur perambatan api. Wajahnya bahkan dipenuhi jelaga setelah berada di sekitar lokasi kebakaran.
Jali mengatakan, keputusannya ikut membantu berawal dari keprihatinan melihat kebakaran yang terus mengancam lingkungan tempat tinggal warga.
“Kalau apinya makin besar, lingkungan kami bisa rusak. Kami juga tidak mau asapnya semakin banyak,” ujar Jali saat ditemui di lokasi.
Aksi Jali kemudian mendapat perhatian warga dan petugas yang berada di lapangan. Lurah Langkai Muhamad Abidin menilai kepedulian tersebut menunjukkan bahwa kesadaran untuk menjaga lingkungan dapat tumbuh sejak usia dini.
Menurut Abidin, keberanian Jali menjadi gambaran sederhana tentang semangat gotong royong yang masih tumbuh di tengah masyarakat.
“Jali, sosok polos seorang anak menunjukkan bahwa rasa peduli terhadap lingkungan tidak mengenal batas usia. Semangat dan keberaniannya patut diapresiasi serta menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya,” kata Abidin.
Meski mengapresiasi kepedulian tersebut, Abidin mengingatkan keselamatan tetap harus menjadi perhatian, terutama bagi anak-anak.
Area yang terdampak karhutla memiliki risiko tinggi karena api dapat kembali membesar dan asap dapat mengganggu kesehatan serta jarak pandang.
Bagi warga, aksi Jali bukan sekadar membantu memadamkan api. Keberadaannya di tengah upaya penanganan karhutla menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana. (red/jn)













