Kebakaran terjadi di sisi kanan jalan nasional yang menghubungkan Sampit dan Palangkaraya. Api membesar dan dengan cepat merambat membakar vegetasi di lahan gambut.
Kobaran api juga menghasilkan asap tebal yang mengganggu aktivitas pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.
Petugas Satuan Tugas (Satgas) Karhutla yang terdiri dari personel BPBD, TNI, Polri, serta relawan Dompet Peduli langsung dikerahkan untuk memadamkan api.
Namun, kuatnya hembusan angin membuat api dengan cepat menjalar sehingga petugas sempat kesulitan mengendalikan kobaran api.
Wakil Koordinator Satgas Karhutla Kotawaringin Timur, Rihel Magat, mengatakan kejadian tersebut menjadi salah satu dari sejumlah karhutla yang ditangani petugas dalam sehari.
“Yang kita tangani ada sekitar 18 lokasi, dan 19 dengan yang malam ini,” ujar Rihel, Minggu malam (6/9/2026).
Setelah berjibaku lebih dari lima jam, petugas akhirnya berhasil mengendalikan kebakaran.
Pasokan air dari sejumlah kendaraan dinas organisasi perangkat daerah (OPD) didatangkan secara bergantian untuk mendukung proses pemadaman.
Setelah api berhasil dilokalisasi, petugas melanjutkan dengan proses pendinginan. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya kembali titik api di lokasi kebakaran.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kalimantan Tengah, pertanggal 6 Sepember 2026, Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan luasan karhutla terbesar dari 13 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah. Total luas lahan yang terbakar di Kotawaringin Timur tercatat mencapai 2.413 hektare.
Sementara itu, total luas area yang terbakar di seluruh Kalimantan Tengah telah mencapai 8.036 hektare. Luas tersebut bertambah sekitar 184 hektare hanya dalam satu hari.
Ancaman karhutla juga terlihat dari meningkatnya jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Kalimantan Tengah. Tercatat sebanyak 102.314 titik hotspot, atau bertambah 5.755 titik dibandingkan hari sebelumnya.
Kondisi tersebut menunjukkan ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah masih tinggi. Petugas gabungan pun terus melakukan penanganan di lapangan guna melokalisasi api dan mencegah kebakaran meluas, terutama di kawasan lahan gambut yang memiliki potensi api kembali muncul. (red)













