NewsPemko Palangka RayaPemprov Kalteng

Rentetan Bunuh Diri Gegerkan Palangka Raya, Pemerhati Desak Penanganan Serius Kesehatan Mental

×

Rentetan Bunuh Diri Gegerkan Palangka Raya, Pemerhati Desak Penanganan Serius Kesehatan Mental

Sebarkan artikel ini
Pemerhati Kesehatan Mental dan Sosial Kalteng, Widya Kumala. (Ist)

Palangka Raya, Nusaborneo.com – Kota Palangka Raya tengah menghadapi situasi yang memprihatinkan. Dalam kurun waktu dua pekan terakhir di awal tahun 2026, tercatat tiga peristiwa bunuh diri dengan metode gantung diri yang terjadi di sejumlah lokasi berbeda. Kejadian beruntun ini memicu kekhawatiran publik dan menimbulkan alarm serius terkait kondisi kesehatan mental masyarakat.

Korban berasal dari latar belakang yang beragam. Salah satu kasus terjadi pada malam pergantian tahun, sementara kasus lainnya menimpa seorang karyawan swasta yang ditemukan tak bernyawa di rumah kontrakannya di kawasan Jalan Pattimura. Rentetan peristiwa tersebut membuat banyak pihak menilai bahwa persoalan kesehatan mental di Palangka Raya tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Pemerhati Kesehatan Mental dan Sosial Kalimantan Tengah, Widya Kumala, menilai bahwa tindakan bunuh diri bukanlah bentuk kelemahan pribadi, melainkan sinyal kegagalan sistem dalam merespons tekanan psikologis yang dialami individu.

“Bunuh diri adalah titik terendah dari akumulasi masalah mental yang tidak tertangani. Rasa kesepian, putus asa, dan beban hidup yang berat sering kali dipendam sendiri karena tidak adanya ruang aman untuk bercerita,” ujar Widya saat diwawancarai, Minggu (11/01/2026).

Widya yang juga merupakan anggota Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) Provinsi Kalimantan Tengah menyoroti kuatnya stigma terhadap isu kesehatan mental di tengah masyarakat. Kondisi ini, menurutnya, membuat banyak orang enggan mencari bantuan profesional meskipun berada dalam kondisi psikologis yang rapuh.

“Masih banyak yang takut dicap lemah atau berlebihan ketika berbicara soal kesehatan mental. Akibatnya, mereka memilih diam sampai akhirnya tidak sanggup lagi menahan tekanan,” jelas perempuan yang akrab disapa Kak Yaya itu.

Ia mengajak keluarga, lingkungan pendidikan, tempat kerja, hingga pemerintah daerah untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku orang-orang di sekitarnya. Tindakan sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi disebutnya dapat menjadi langkah awal pencegahan.

“Kadang yang dibutuhkan bukan solusi instan, tapi kehadiran dan empati. Telinga yang mau mendengar jauh lebih berarti daripada nasihat yang menyudutkan,” tambahnya.

Widya juga menegaskan pentingnya membangun budaya saling peduli dan berani berbicara tentang masalah mental secara terbuka. Menganggap isu ini sebagai hal tabu, menurutnya, hanya akan memperpanjang daftar korban.

Ia berharap pemerintah daerah bersama tokoh masyarakat dapat memperkuat sistem layanan kesehatan mental yang mudah diakses, terjangkau, dan ramah bagi semua kalangan.

“Setiap nyawa sangat berharga. Jangan pernah menormalisasi keputusasaan. Jika melihat tanda-tanda depresi pada orang terdekat, rangkul mereka dan arahkan untuk mencari bantuan profesional. Kita harus bergerak bersama sebelum tragedi ini terus berulang,” pungkas Widya.

Bagi masyarakat yang mengalami tekanan psikologis berat atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, disarankan segera menghubungi layanan kesehatan mental atau tenaga profesional terdekat. Anda tidak sendiri. (Red/jn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *