Buntok, Nusaborneo.com – Kemarau panjang mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat di bantaran Sungai Barito, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah.
Debit air sungai yang terus menyusut dalam hampir tiga bulan terakhir tidak hanya mengganggu aktivitas transportasi air, tetapi juga menyulitkan sebagian warga mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut terlihat di wilayah Buntok dan sejumlah kawasan lainnya yang berada di sepanjang aliran Sungai Barito.
Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kabupaten Barito Selatan, ketinggian permukaan air Sungai Barito saat ini turun drastis hingga di bawah 1 meter.
Padahal, dalam kondisi normal, ketinggian permukaan air sungai dapat mencapai 6 hingga 12 meter.
Surutnya Sungai Barito membuat aktivitas transportasi air ikut terdampak. Speed boat maupun perahu motor yang selama ini digunakan masyarakat untuk menuju wilayah pedalaman harus melintas dengan lebih hati-hati.
Saat kondisi sungai semakin dangkal, hanya jenis perahu tertentu seperti kelotok atau perahu motor yang masih dapat melintas di sejumlah bagian sungai.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Barito Selatan Joni Priawan mengatakan, kondisi air yang surut cukup mengganggu aktivitas angkutan sungai.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya pengguna jasa transportasi air, tidak memaksakan perjalanan ketika kondisi sungai tidak memungkinkan.
Petugas melalui unit pelaksana daerah yang tersebar di lima kecamatan juga diminta terus mengingatkan masyarakat agar berhati-hati saat menggunakan transportasi sungai.
“Verbatim Joni Priawan.”
Selain permukaan air yang dangkal, aktivitas transportasi sungai juga menghadapi persoalan lain. Jarak pandang pengguna jasa angkutan air menjadi terbatas akibat asap dari kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.
Dampak kemarau juga dirasakan warga yang tinggal di bantaran Sungai Barito.
Di Desa Kalahien, Kabupaten Barito Selatan, warga yang sehari-hari memanfaatkan sungai untuk memenuhi kebutuhan air kini harus menghadapi kondisi sungai yang semakin surut.
Ketika debit air masih normal, warga relatif mudah mendapatkan air karena aliran sungai berada tidak jauh dari permukiman.
Namun, saat air menyusut, kebutuhan air bersih menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat.
Warga berharap hujan segera turun sehingga debit Sungai Barito kembali meningkat.
Mereka juga berharap musim kemarau yang berlangsung cukup panjang segera berakhir agar aktivitas masyarakat, terutama transportasi air, dapat kembali berjalan seperti biasa.
Surutnya Sungai Barito dipengaruhi oleh minimnya curah hujan di wilayah hulu. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh endapan lumpur dan pasir yang membuat sejumlah bagian alur sungai menjadi semakin dangkal.
Bagi masyarakat yang hidup di sepanjang Sungai Barito, hujan bukan sekadar penanda berakhirnya musim kemarau. Turunnya hujan juga menjadi harapan agar jalur transportasi kembali lancar dan kebutuhan air sehari-hari dapat terpenuhi. (red)













