Pangkalan Bun, Nusaborneo.com – Di tengah lahan gambut yang baru saja dilalap api, seekor induk orangutan bertahan bersama bayinya yang masih sangat kecil.
Keduanya ditemukan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International (OFI) di Desa Madangsari, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Saat ditemukan, induk dan bayi orangutan itu berada di atas sebatang pohon yang telah mati dan hangus terbakar.
Kepulan asap masih terlihat dari dalam tanah di sekitar lokasi. Api bahkan diduga masih membara di bawah permukaan tanah gambut.
Dalam kondisi terdesak, induk orangutan tetap bertahan bersama bayinya di tengah kepungan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Petugas kemudian melakukan evakuasi dengan terlebih dahulu membius induk orangutan.
Setelah berhasil dievakuasi, keduanya langsung dibawa untuk menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan, tubuh induk orangutan mengalami sejumlah luka bakar. Luka tersebut diduga terjadi ketika orangutan berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api yang mengepung habitatnya.
Induk orangutan itu kemudian diberi nama Sari. Usianya diperkirakan sekitar 20 tahun dengan bobot tubuh mencapai 38,5 kilogram.
Sementara itu, bayi orangutan yang merupakan betina diberi nama Sarah. Sarah diperkirakan baru berusia sekitar satu bulan dengan bobot sekitar satu kilogram.
Kondisi Sarah terlihat lebih baik dibandingkan induknya. Meski demikian, petugas tetap akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisi kesehatannya.
Kepala BKSDA Kalimantan Tengah Andi Muhammad Khadafi mengatakan, Sari dan Sarah kini menjalani perawatan dan pemantauan.
“Untuk sementara, Sari dan Sarah akan dirawat hingga kondisi keduanya dinyatakan cukup sehat,” ucap Andi Muhammad Khadafi.
Luka bakar yang dialami Sari akan mendapatkan penanganan, sementara kondisi Sarah terus dipantau mengingat usianya masih sangat muda.
Setelah dinilai pulih dan lokasi habitat dipastikan aman dari ancaman karhutla, keduanya akan dilepasliarkan kembali.
Penyelamatan Sari dan Sarah menjadi gambaran bahwa karhutla tidak hanya mengancam keselamatan manusia. Kebakaran juga menghancurkan habitat satwa liar dan membuat hewan-hewan yang hidup di dalamnya harus berjuang mencari tempat aman.
Bagi Sari, perjuangan itu dilakukan sambil tetap bertahan bersama bayinya yang masih sangat kecil. Sari dan Sarah bukan satu-satunya orangutan yang diselamatkan BKSDA Kalimantan Tengah dari ancaman karhutla.
Sebelumnya, petugas juga menyelamatkan dua individu orangutan, yakni induk dan bayinya, di Kabupaten Kotawaringin Timur pada 3 September 2026.
Keduanya ditemukan dalam kondisi serupa, terjebak di tengah kawasan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Upaya penyelamatan tersebut dilakukan untuk mencegah semakin banyak satwa liar menjadi korban akibat rusaknya habitat mereka oleh kebakaran. (red)













