Palangka Raya, Nusaborneo.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi Kalimantan Tengah. Sebanyak 145 titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah Kalteng pada Minggu (2/8/2026) pagi menjelang siang.
Data tersebut berdasarkan pemantauan citra satelit NASA-NOAA20 melalui sistem SiPongi Kementerian Kehutanan.
Dari jumlah tersebut, delapan titik panas terdeteksi berada di wilayah Kota Palangka Raya.
Sebaran titik panas di Palangka Raya berada di dua kecamatan yang selama ini menjadi wilayah rawan karhutla, yakni Jekan Raya dan Sabangau.
Rinciannya, empat titik panas terdeteksi di Kelurahan Bukit Tunggal, tiga titik di Kelurahan Kameloh Baru, dan satu titik di Kelurahan Sabaru.
Mayoritas titik panas tersebut berada pada tingkat kepercayaan sedang atau medium confidence. Kondisi itu menunjukkan adanya anomali suhu permukaan yang perlu segera diverifikasi untuk memastikan apakah benar terdapat kebakaran di lapangan.
Manager Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kota Palangka Raya, Balap Sipet, mengatakan tim Satgas Darat terus disiagakan untuk mengantisipasi munculnya karhutla.
“Kami terus mengintensifkan pemantauan berkala dan kesiapsiagaan personel di seluruh titik rawan,” kata Balap Sipet, Minggu siang.
Menurut dia, setiap informasi mengenai titik panas menjadi perhatian petugas. Tim patroli gabungan akan melakukan pengecekan langsung atau groundcheck untuk memastikan kondisi di lokasi.
“Begitu koordinat titik panas terdeteksi oleh satelit, tim patroli gabungan langsung dikerahkan ke lokasi untuk melakukan verifikasi lapangan (groundcheck) serta penanganan cepat guna memadamkan potensi api sebelum meluas,” ujarnya.
Ancaman karhutla tidak hanya menjadi persoalan bagi kawasan yang terdeteksi titik panas. Asap dari kebakaran di sejumlah wilayah juga mulai berpengaruh terhadap kondisi udara di kawasan perkotaan.
Berdasarkan laporan meteorologi penerbangan BMKG di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, jarak pandang mendatar (visibility) tercatat sekitar 4 kilometer akibat kabut asap tipis.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jarak pandang yang menurun dapat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan apabila kondisi memburuk.
Sebaran titik panas di Kalteng juga cukup tinggi di sejumlah kabupaten. Kabupaten Pulang Pisau tercatat menyumbang 75 titik panas, sedangkan Kotawaringin Timur terdapat 15 titik.
Kondisi ini membuat kewaspadaan perlu ditingkatkan, terutama di tengah cuaca yang berpotensi mendukung terjadinya kebakaran lahan.
Balap mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan.
Dia juga meminta warga segera melapor apabila melihat kepulan asap atau menemukan titik api di sekitar lingkungan tempat tinggal.
“Jangan menunggu api membesar. Setiap temuan kepulan asap atau titik api segera dilaporkan kepada petugas agar bisa ditangani sedini mungkin,” tutur Balap.
Menurutnya, penanganan cepat menjadi salah satu kunci untuk mencegah kebakaran kecil berkembang menjadi karhutla yang lebih luas dan berdampak terhadap kualitas udara masyarakat. (Red/jn)













