Kuala Kapuas, Nusaborneo.com – Di balik semangat belajar yang tak pernah padam, tersimpan harapan besar seorang siswi untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Kisah itu datang dari Sylvia Agustina Pratiwi, siswi kelas XII-C SMAN 2 Kuala Kapuas, yang tengah berjuang mengakses bantuan KIP Kuliah.
Dalam kunjungan jajaran Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah, suara Sylvia mewakili banyak pelajar lain yang berada dalam situasi serupa. Dengan penuh harap, ia menceritakan kondisi keluarganya yang sederhana. Orang tuanya bekerja sebagai penjual jamu dalam skala UMKM, menjadi satu-satunya penopang ekonomi keluarga.
“Saya sudah berusaha mengurus sejak awal kelas XII, tapi masih masuk desil 6 sampai 10. Padahal kondisi kami berharap bisa masuk desil 1 sampai 5,” ujarnya lirih.
Bagi Sylvia, perbedaan angka dalam kategori desil bukan sekadar statistik. Itu adalah penentu peluang untuk meraih mimpi. Ia mengaku telah menempuh berbagai proses pengajuan melalui pihak kecamatan, namun hasil pendataan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata yang ia alami sehari-hari.
Cerita ini pun mendapat perhatian langsung dari Pelaksaana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah (Plt Kadisdik Kalteng), Muhammad Reza Prabowo. Ia menilai persoalan yang dialami Sylvia menjadi cerminan tantangan dalam sistem pendataan sosial yang masih perlu disempurnakan.
“Kami akan dorong perbaikan data agar siswa seperti ini bisa mendapatkan haknya. Klasifikasi desil sangat menentukan akses terhadap bantuan pendidikan,” tegasnya.
Menurutnya, langkah konkret akan dilakukan melalui koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Badan Pusat Statistik dan Dinas Sosial. Tujuannya memastikan data kesejahteraan masyarakat benar-benar akurat dan mampu menangkap kondisi riil di lapangan.
Upaya ini tidak hanya menyasar satu individu, melainkan menjadi bagian dari komitmen lebih luas untuk menghadirkan keadilan dalam akses pendidikan. Sebab, di balik angka-angka yang tercatat, ada mimpi-mimpi anak bangsa yang menunggu untuk diperjuangkan.
Kisah Sylvia menjadi pengingat bahwa perjuangan menuju pendidikan tinggi tidak selalu soal kemampuan akademik, tetapi juga tentang bagaimana sistem mampu berpihak pada mereka yang membutuhkan.
Dengan perhatian dan langkah nyata dari pemerintah daerah, harapan itu kini kembali menyala. Bagi Sylvia dan banyak siswa lainnya, KIP Kuliah bukan sekadar bantuan, melainkan jembatan menuju masa depan yang lebih baik. (red)













