Palangka Raya, Nusaborneo.com – Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran turun langsung dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah.
Senin (24/8/2026) pagi, Agustiar bersama Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan dan perwakilan perwakilan Pangdam XXII/Tambun Bungai dan steakholder lainnya melepas 126 personel tambahan untuk memperkuat penanganan karhutla.
Personel tersebut terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, hingga relawan.
Mereka tergabung dalam tim yang diberi nama “Isen Mulang”, yang memiliki makna pantang mundur. Tim ini kemudian disebar ke sejumlah lokasi yang masih ditemukan titik api.
Bagi Agustiar, pengerahan personel tambahan menjadi bagian dari langkah cepat pemerintah untuk memastikan kebakaran tidak semakin meluas.
Terlebih, kondisi lahan gambut yang mengering akibat kemarau membuat api sulit dikendalikan.
Api bahkan dapat kembali muncul dari dalam tanah meski permukaan lahan telah terlihat padam.
Salah satu lokasi yang masih ditangani petugas berada di Jalan Yos Sudarso Ujung, Kelurahan Menteng, Palangka Raya.
Di lokasi tersebut, petugas berjibaku memadamkan api yang telah muncul sejak sekitar sepekan terakhir.
Dengan selang air, petugas menyemprotkan air secara terus-menerus ke titik-titik yang terbakar.
Mereka tidak hanya mengejar kobaran api yang terlihat. Bara yang berada di dalam gambut juga harus dipastikan benar-benar mati.
Asap pekat yang memenuhi lokasi membuat proses pemadaman semakin berat.
Agustiar menilai seluruh upaya tersebut penting untuk mencegah api mendekati permukiman masyarakat.
Menurut dia, pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait harus bergerak bersama agar karhutla tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar.
Saat ini, empat kabupaten/kota di Kalimantan Tengah telah menetapkan status tanggap darurat karhutla.
Keempat wilayah tersebut yakni Kota Palangka Raya, Barito Selatan, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat.
Meski demikian, Pemprov Kalteng masih mempertahankan status siaga darurat di tingkat provinsi.
Agustiar mengatakan pemerintah masih memantau perkembangan kondisi di lapangan sebelum mengambil keputusan untuk meningkatkan status tersebut.
“Empat daerah itu sudah mengeluarkan instruksi. Kabupaten kota se-Kalimantan Tengah harusnya siaga darurat,” ujar Agustiar.
Ia menyebut kondisi saat ini masih relatif terkendali.
“Menurut kami situasi dan kondisinya masih normal-normal saja,” katanya.
Berdasarkan data BPBD Kalimantan Tengah, luas lahan yang terbakar sepanjang 2026 mencapai sekitar 7.634 hektare.
Data tersebut berdasarkan perhitungan citra satelit hingga 23 Agustus 2026.
Agustiar mengatakan angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan sejumlah periode karhutla besar yang pernah terjadi di Kalimantan Tengah.
Pemerintah juga membandingkannya dengan periode ketika fenomena El Nino terjadi dengan intensitas kuat, seperti pada 1997, 2002, dan 2006.
Pada periode tersebut, luas lahan terbakar mencapai ratusan sampai jutaan hektare.
Sementara itu, pada 2015, 2019, dan 2023, fenomena El Nino berada pada intensitas lebih lemah hingga sedang dan kebakaran tersebar di sejumlah wilayah.
Meski menilai kondisi masih terkendali, Agustiar menegaskan penanganan karhutla tetap harus dilakukan secara serius.
Sebab, bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan kebakaran, persoalan karhutla bukan sekadar angka luasan lahan terbakar.
Asap yang masuk ke permukiman dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, sementara api yang mendekat juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga.
Karena itu, pemerintah bersama TNI, Polri, BPBD, Manggalag Agni, relawan, dan masyarakat terus berupaya memastikan api tidak meluas.
“Yang penting kita terus melakukan penanganan dan pencegahan agar karhutla tidak semakin meluas,” ujar Agustiar. (red)













