Palangka Raya, Nusaborneo.com – Relawan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Kamboja Palangka Raya harus berjibaku memadamkan kebakaran lahan yang meluas dan mendekati permukiman warga di Jalan Embang 5, Menteng 12, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Ketua Relawan BPK Kamboja, Sucipto, mengatakan, kebakaran lahan tersebut berlangsung selama dua hari, Kamis (27/8/2026) hingga Jumat (28/8/2026).
Menurut dia, kobaran api sempat menghanguskan sejumlah pondok kosong milik warga. Api juga terus bergerak mendekati rumah-rumah penduduk.
“Kondisinya cukup membahayakan karena api sudah mengarah ke kapling dan rumah warga,” ujar Sucipto, Jumat.
Situasi semakin mengkhawatirkan ketika lidah api terlihat melintasi batas lahan hingga mendekati sisi jalan. Ketinggian api disebut mencapai sekitar lima meter.
Kondisi itu membuat warga khawatir meninggalkan rumah tanpa pengawasan. Sebagian warga bahkan memilih tetap berjaga untuk mengantisipasi kobaran api kembali mendekati permukiman.
Upaya pemadaman juga menghadapi kendala serius. Sejumlah sumber air alami di sekitar lokasi, seperti parit dan lubang bekas galian, telah mengering akibat kondisi lahan yang terbakar.
Relawan terpaksa menggunakan mesin pompa portabel untuk menyedot air yang tersisa. Namun, air tersebut bercampur lumpur dan jumlahnya sangat terbatas.
“Air yang tersisa hanya sedikit dan bercampur lumpur. Dalam waktu sekitar 30 menit saja sudah habis, sementara bara api masih terlihat di lahan,” kata Sucipto.
Keterbatasan sumber air membuat relawan membutuhkan pasokan air dari mobil tangki pemadam. Persoalannya, kebakaran lahan terjadi di sejumlah titik dengan luas area yang berbeda-beda sehingga kebutuhan pasokan air cukup tinggi.
Usulkan Penambahan Tangki Air
Melihat kondisi tersebut, Sucipto berharap pemerintah dan instansi terkait mempertimbangkan penambahan armada tangki suplai air berukuran lebih kecil.
Menurut dia, kendaraan dengan kapasitas sekitar 3.000 hingga 5.000 liter dinilai lebih sesuai untuk mendukung pemadaman di kawasan permukiman dan jalan yang aksesnya terbatas.
Selain lebih mudah bermanuver, kendaraan tangki sederhana juga dinilai lebih mudah dalam perawatan dan perbaikan.
“Kami berharap ada penambahan mobil tangki kecil yang mudah masuk ke jalan lingkungan dan mudah dirawat. Armada seperti ini bisa diserahkan kepada pemadam swakarsa atau kelompok masyarakat yang membutuhkan,” tuturnya.
Ia menilai ketersediaan armada dan sumber air menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat penanganan kebakaran lahan.
Koordinasi antara pemadam swakarsa, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta masyarakat juga dinilai perlu diperkuat agar penanganan karhutla dapat dilakukan lebih cepat ketika api mulai mendekati permukiman.
Sucipto mengatakan, keterlibatan masyarakat melalui kelurahan maupun Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) juga dapat menjadi bagian dari penguatan sistem pemadaman di tingkat lingkungan.
“Kondisi di lapangan menunjukkan kebutuhan armada dan suplai air harus segera diperkuat. Ini bukan hanya untuk sekarang, tetapi juga sebagai persiapan menghadapi kebakaran lahan berikutnya,” ujarnya.
Kalau Anda mau, saya juga bisa buatkan 3 versi judul alternatif yang lebih “klik” tetapi tetap bergaya Kompas.com, termasuk versi yang menonjolkan api setinggi 5 meter dan ancaman terhadap rumah warga. (red)













