Palangka Raya, Nusaborneo.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian pemerintah di sejumlah wilayah Indonesia. Upaya pemadaman dan pencegahan pun terus diperkuat, termasuk di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran mengikuti Rapat Koordinasi Pembahasan Perkembangan Penanganan dan Pencegahan Karhutla Tahun 2026 secara daring dari Istana Isen Mulang, Palangka Raya, Selasa (15/9/2026).
Rakor nasional tersebut dipimpin Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago. Sejumlah pejabat turut mengikuti rapat, di antaranya Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri Lingkungan Hidup, Jaksa Agung, Kepala BNPB, Kepala BMKG, dan Kepala Bareskrim Polri.
Agustiar mengikuti rapat bersama Pangdam XXII Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin dan Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan. Kepala daerah serta unsur Forkopimda dari sejumlah provinsi yang masih menghadapi ancaman karhutla juga ikut dalam rakor tersebut.
Dalam rapat, pemerintah pusat memaparkan perkembangan penanganan karhutla sekaligus langkah yang perlu diperkuat di lapangan. Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya seluruh pihak bekerja dengan data dan arah yang sama.
Hingga 15 September 2026, tercatat sekitar 704,38 hektare lahan di berbagai wilayah Indonesia masih membutuhkan penanganan pemadaman.
Kondisi tersebut membuat pemerintah tidak ingin lengah. Pemadaman di darat terus menjadi kekuatan utama, sementara operasi udara digunakan untuk membantu menjangkau titik-titik yang sulit ditangani dari darat.
Kalteng menjadi salah satu wilayah yang mendapat dukungan pemerintah pusat dalam menghadapi karhutla. Dukungan itu meliputi personel, armada, peralatan, patroli udara hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
BNPB telah menjalankan OMC sebanyak lima periode sejak Juni hingga September 2026. Selain itu, patroli udara juga dilakukan untuk memantau titik-titik rawan. Lima helikopter water bombing turut disiagakan untuk membantu proses pemadaman.
Penanganan karhutla di Kalteng juga mendapat perhatian langsung pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya meninjau kondisi dan penanganan karhutla di provinsi tersebut pada 22 Agustus 2026.
Tak berhenti di situ, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga datang ke Kalteng pada 11 September 2026 untuk melihat langsung perkembangan penanganan karhutla.
Di tingkat daerah, kekuatan personel yang dapat dikerahkan mencapai sekitar 10.700 orang. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, BPB-PK, BPBD, Manggala Agni, pemadam kebakaran, perangkat daerah hingga relawan dan elemen masyarakat lainnya.
Bagi Kalteng, persoalan karhutla bukan sekadar bagaimana memadamkan api ketika sudah muncul. Pencegahan menjadi bagian penting agar kebakaran tidak meluas dan asap tidak kembali mengganggu aktivitas masyarakat.
Karena itu, pemerintah daerah bersama Forkopimda dan seluruh perangkat daerah terus memperkuat koordinasi di lapangan. Masyarakat juga didorong untuk ikut berperan dalam mencegah munculnya titik api.
Rakor nasional mengingatkan seluruh daerah agar memperkuat pemadaman secara masif dengan mengutamakan satgas darat. Dukungan operasi udara akan diberikan sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat penanganan sebelum api meluas dan dampaknya semakin dirasakan masyarakat.
Terlebih, berdasarkan prediksi BMKG, hujan baru diperkirakan mulai turun pada awal November 2026. Artinya, masih ada waktu yang harus dihadapi bersama hingga kondisi cuaca kembali lebih mendukung.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran bersama Forkopimda menegaskan komitmen untuk terus memperkuat kerja bersama menghadapi karhutla.
Upaya tersebut bukan hanya untuk menjaga kawasan hutan dan lahan, tetapi juga melindungi masyarakat dari ancaman asap serta dampak kesehatan dan aktivitas sehari-hari yang dapat ditimbulkan karhutla.
Kalteng pun memastikan seluruh kekuatan yang ada akan terus digerakkan. Prinsipnya, penanganan dilakukan secepat mungkin, tepat sasaran, dan melibatkan banyak pihak agar api tidak memberi ruang untuk kembali meluas. (red/shah)













