Ketua BPK Pandohop Palangka Raya, Jean Steve, didampingi Sekretaris Tommy D. Djantan, mengatakan keputusan untuk mengaktifkan kembali organisasi tersebut berangkat dari panggilan kemanusiaan.
Menurutnya, komitmen untuk membantu masyarakat saat tertimpa musibah merupakan semangat yang sejak awal menjadi dasar berdirinya BPK Pandohop.
“Kami hadir kembali bukan tanpa sebab. Ini merupakan bentuk menjaga komitmen dan janji kemanusiaan yang telah kami ikrarkan sejak 16 Oktober 2008. Salah satu cita-cita kami adalah selalu berada di barisan terdepan untuk membantu masyarakat yang tertimpa musibah, khususnya kebakaran permukiman dan perumahan di Palangka Raya,” ujar Jean Steve, Minggu (1/11/2026).
Saat ini, pengurus dan personel BPK Pandohop mulai melakukan berbagai persiapan untuk memastikan organisasi dapat kembali beroperasi dengan baik.
Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah pembenahan administrasi dan pengaktifan kembali legalitas organisasi yang sebelumnya sempat nonaktif. Proses tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan Kantor Pelayanan Pajak serta Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Palangka Raya.
Sekretaris BPK Pandohop, Tommy D. Djantan, mengatakan pembenahan organisasi menjadi fondasi penting sebelum para relawan kembali menjalankan tugas di lapangan.
“Kami ingin memastikan seluruh persiapan dilakukan dengan baik. Bukan hanya legalitas dan administrasi, tetapi juga pendataan ulang armada, sarana prasarana, serta penataan keanggotaan relawan,” jelas Tommy.
Dia berharap BPK Pandohop dapat kembali hadir dengan sistem kerja yang lebih tertata, profesional, responsif, dan mampu berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam penanganan bencana.
Markas BPK Pandohop sendiri berada di kawasan Kompleks Universitas Palangka Raya (UPR). Lokasi tersebut diharapkan dapat mendukung kesiapsiagaan personel dalam memberikan bantuan kepada masyarakat.
Kembalinya BPK Pandohop dinilai menjadi tambahan kekuatan bagi upaya penanggulangan kebakaran di Kota Palangka Raya. Terlebih, wilayah ini memiliki tantangan tersendiri, mulai dari potensi kebakaran permukiman padat penduduk hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat musim kemarau.
Kehadiran relawan pemadam kebakaran swasta seperti BPK Pandohop diharapkan dapat memperkuat kerja-kerja kemanusiaan bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta instansi terkait lainnya.
Bagi para pengurus dan personel Pandohop, sembilan tahun bukan berarti berakhirnya pengabdian. Kini, mereka kembali dengan harapan bisa menjadi bagian dari masyarakat yang saling menjaga dan membantu ketika musibah datang.
Sebab, dalam setiap peristiwa kebakaran, yang dipertaruhkan bukan hanya bangunan dan harta benda, tetapi juga keselamatan serta kehidupan banyak orang. (red/jn)













