Palangka Raya, Nusaborneo.com – Aktris sekaligus aktivis lingkungan, Sherina Munaf, turun langsung membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (2/9/2026).
Sherina ikut melakukan pemadaman di kawasan lahan gambut yang terbakar bersama sejumlah mahasiswi Universitas Palangka Raya (UPR).
Dengan menggunakan selang dan nozzle pemadam, Sherina menyemprotkan air ke sejumlah titik lahan yang masih terbakar.
Meski lokasi dipenuhi asap pekat, Sherina tetap berupaya membantu proses pemadaman agar api tidak semakin meluas.
Lokasi karhutla tersebut berada sekitar 200 meter, tepatanya dibelakang Kampus MIPA UPR, Jalan Yos Sudarso, Palangka Raya.
Kebakaran dilaporkan menghanguskan puluhan hektare lahan di kawasan tersebut. Hingga saat ini, penyebab kebakaran maupun pihak yang bertanggung jawab atas terbakarnya lahan tersebut masih belum diketahui.
Sherina mengatakan, keterlibatannya dalam pemadaman karhutla merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan, khususnya hutan dan ekosistem di Kalimantan.
Menurut dia, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak karena dampaknya tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga satwa liar yang hidup di kawasan hutan.
“Pergerakan bersama sangat diperlukan saat ini dan juga kita memikirkan semuanya yang terdampak di sini, dari manusia, satwa juga, dan perlu dilindungi seperti orangutan contohnya,” ujar Sherina.
Sherina diketahui memiliki kepedulian terhadap kelestarian orangutan Kalimantan. Ia juga beberapa kali terlibat dalam kegiatan bersama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), termasuk dalam kegiatan pelepasliaran orangutan.
Ia mengatakan, kondisi kebakaran hutan dan lahan perlu dilihat secara langsung untuk memahami dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan.
“Karena biodiversitas Kalimantan itu adalah paru-paru kita semua, ekosistem yang perlu dijaga. Kita enggak ada apa-apanya kalau enggak ada ekosistem,” kata Sherina.
Proses pemadaman karhutla di lahan gambut menjadi tantangan tersendiri. Api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu dan upaya lebih.
Sherina bersama para mahasiswi UPR pun terus membantu menyemprotkan air ke titik-titik yang terbakar untuk mencegah api menjalar ke kawasan sekitar.
Terlebih, lokasi kebakaran berada tidak jauh dari bangunan perkuliahan Kampus MIPA UPR.
Aksi Sherina bersama mahasiswa dan pihak BOSF diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ancaman karhutla.
Selain menimbulkan kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, karhutla juga berpotensi merusak habitat satwa dan mengancam keberlangsungan ekosistem hutan Kalimantan.
Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan karhutla dinilai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk melindungi lingkungan dan satwa yang terdampak. (red)













