Nanga Bulik, Nusaborneo.com – Pemerintah Kabupaten Lamandau kembali menggelar Festival Babukung 2025, yang diproyeksikan mampu meningkatkan transaksi ekonomi masyarakat hingga 200 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh partisipasi 88 desa dan puluhan pelaku UMKM lokal yang ikut memeriahkan acara budaya tahunan tersebut.
Festival yang berlangsung di Alun-Alun Kota Nanga Bulik sejak Sabtu (8/11/2025) ini mengusung tema “Culture Meets Future”, sebuah konsep yang memadukan pelestarian warisan budaya Suku Dayak Tomun dengan pengembangan ekonomi kreatif kontemporer.
Bupati Lamandau Rizky Aditia Putra menegaskan komitmen pemerintah daerah menjadikan Festival Babukung bukan hanya sebagai ajang hiburan, tetapi juga motor penggerak ekonomi masyarakat lokal.
“Kami berharap Festival Babukung ini ke depannya bisa terus semakin dikenal, tidak hanya di daerah tetapi juga di tingkat nasional bahkan internasional sebagai bentuk pelestarian budaya,” ujar Rizky.
Menurut data Dinas Pariwisata Kabupaten Lamandau, pada penyelenggaraan tahun lalu terdapat lebih dari 70 pelaku UMKM lokal yang berpartisipasi dengan omzet gabungan mencapai ratusan juta rupiah. Tahun ini, angka tersebut diprediksi melonjak seiring meningkatnya jumlah peserta dan pengunjung.
Festival Babukung 2025 juga dirangkaikan dengan Lamandau Expo yang akan digelar pada 11–14 November 2025. Acara ini menampilkan pameran produk unggulan daerah, kuliner khas, hingga kerajinan tangan tradisional yang memadati area pameran di pusat kota.
Rizky menyebut, pemerintah daerah memberikan sejumlah insentif dan dukungan konkret bagi pelaku UMKM. Di antaranya berupa stan gratis bagi UMKM binaan, pendampingan pemasaran digital, serta akses permodalan melalui kerja sama dengan lembaga keuangan.
“Kami ingin Lamandau Expo menjadi magnet wisata baru di Kalimantan Tengah. Ini bukan sekadar pesta rakyat, tapi investasi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat Lamandau,” tegasnya.
Untuk meningkatkan profesionalisme, Pemkab Lamandau turut menggandeng event organizer nasional dalam penyelenggaraan festival tahun ini.
Festival Babukung sendiri berakar dari tradisi sakral upacara kematian Suku Dayak Tomun. Sejak pertama kali digelar pada tahun 2014, festival ini berkembang menjadi ajang pelestarian budaya dan daya tarik wisata unggulan yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Tahun ini, sebanyak 88 desa dari delapan kecamatan ikut berpartisipasi, termasuk sejumlah komunitas seni lokal. Dalam perhelatan tersebut, para peserta menampilkan tarian Babukung dengan topeng tradisional “Luha” yang memiliki beragam karakter dan makna simbolik.
Topeng yang dahulu digunakan dalam upacara duka kini tampil sebagai simbol kebangkitan dan harapan bagi masyarakat Lamandau — menari di atas panggung budaya yang menyatukan tradisi dan masa depan. (Red)













