NewsPemprov Kalteng

Karhutla Belum Mereda, Dua Pesawat BNPB Tebar Garam untuk Datangkan Hujan di Kalteng

×

Karhutla Belum Mereda, Dua Pesawat BNPB Tebar Garam untuk Datangkan Hujan di Kalteng

Sebarkan artikel ini
Aktivitas penyemaian garam untuk operasi modifikasi cuaca dan Kepala BPB-PK Kalteng Ahmad Toyib saat wawancara.

Palangka Raya, Nusaborneo.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) belum juga mereda. Hingga 2 Agustus 2026, luas lahan yang terbakar di 14 kabupaten/kota telah mencapai 1.669 hektar.

Kondisi kemarau panjang membuat upaya pemadaman tidak mudah. Tim gabungan yang berada di darat dan udara terus berusaha menjinakkan api, terutama di kawasan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah memperkuat upaya penanganan karhutla dengan memanfaatkan teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan dua unit pesawat untuk melakukan operasi modifikasi cuaca di wilayah Kalteng.

Pesawat tersebut digunakan untuk menyemai garam ke titik-titik yang dinilai memiliki potensi terbentuknya awan hujan berdasarkan analisis tim.

Dalam satu kali penerbangan, pesawat dapat membawa sekitar satu ton atau 1.000 kilogram garam untuk kemudian ditaburkan di wilayah sasaran.

Operasi ini dilakukan sejak pagi hingga malam hari dengan harapan awan hujan terbentuk dan hujan dapat turun di wilayah yang membutuhkan.

Sejumlah wilayah di Kalteng menjadi sasaran operasi modifikasi cuaca, di antaranya Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kameloh Baru, Kota Palangka Raya, serta wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, dukungan BNPB melalui operasi modifikasi cuaca sangat dibutuhkan untuk membantu penanganan karhutla.

Menurut dia, hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang sangat diharapkan untuk membasahi kembali lahan yang terbakar.

“Kita berharap hujan bisa turun dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup panjang, sehingga lahan yang terbakar bisa benar-benar basah,” ujar Ahmad.

Ahmad mengatakan, kondisi karhutla di Kalteng saat ini terus ditanggulangi. Namum ttik api masih bermunculan dan meluas di sejumlah wilayah, meski sebagian lokasi telah berhasil ditangani tim gabungan.

Upaya pemadaman terus dilakukan melalui pengerahan personel dan peralatan, baik dari tim darat maupun udara. Namun, kondisi di lapangan tidak selalu mudah.

Musim kemarau panjang menyebabkan ketersediaan air menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Terlebih, api yang berada di kawasan gambut dapat menjalar dan bertahan di bawah permukaan tanah.

Kondisi itu membuat pemadaman tidak cukup hanya dengan mengatasi api yang terlihat di permukaan.

“Sebanyak dua unit pesawat Cessna melakukan TMC di wilayah Kalimantan Tengah,” kata Ahmad.

Hingga 2 Agustus 2026, luas hutan dan lahan yang terbakar di 14 kabupaten/kota di Kalteng telah mencapai 1.669 hektar.

Operasi modifikasi cuaca yang telah berlangsung sejak bantuan adanya bantuan BNPB dan diharapkan dapat membantu memutus siklus karhutla.

Hujan yang turun diharapkan tidak hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga membasahi lapisan gambut sehingga bara yang masih tersimpan di dalam tanah ikut padam.

Bagi masyarakat yang terdampak karhutla, hujan bukan sekadar perubahan cuaca. Hujan menjadi harapan agar udara kembali bersih, aktivitas kembali normal, dan ancaman api yang setiap hari menghantui dapat segera berakhir. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *