Pemkab BarselPendidikan

Kerja Sama Pemda, Balai Bahasa Gelar Revitalisasi yang Difokuskan pada Delapan Bahasa di Kalteng

×

Kerja Sama Pemda, Balai Bahasa Gelar Revitalisasi yang Difokuskan pada Delapan Bahasa di Kalteng

Sebarkan artikel ini
Foto Bersama

Buntok, Nusaborneo.com – Revitalisasi bahasa daerah selain dilakukan untuk menempatkan kembali bahasa daerah di ranah yang semestinya, promosi kepada penutur muda usia juga menjadi prioritas.

Komunitas dan generasi muda yang menjadi sasaran kegiatan ini wajib lebih mengenali dan memahami bahasa dan budayanya. Mereka harus diperkenalkan dan didekatkan sesering mungkin kepada bahasa ibunya.

Untuk itu Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, bekerja sama dengan pemerintah daerah di 13 kabupaten dan 1 kota, kembali melaksanakan revitalisasi yang difokuskan pada delapan bahasa, yaitu bahasa Dayak Ngaju, bahasa Maanyan, bahasa Ot Danum, Melayu Kotawaringin, Dayak Siang, Dayak Bakumpai, Dayak Katingan, dan Dayak Sampit.

Beberapa bahasa yang telah direvitalisasi tahun lalu, tahun ini direvitalisasi kembali sehingga telah berkelanjutan. Penambahan bahasa-bahasa baru dimaksudkan untuk mengamplifikasi dan mendiversifikasi bahasa dan daerah sasaran. Dengan demikian, dampak yang diharapkan akan menjadi lebih luas.

“Kita semua berusaha semaksimal mungkin agar budaya kita, budaya Dayak, termasuk bahasa-bahasa Dayak, tidak hilang begitu saja, tetapi terlindungi, terlestarikan, agar lebih kuat dan bermanfaat, kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalteng, Muhammad Muis dalam realese resminya yang diterima Nusaborneo.com, Selasa (14/11/2023).

Peraturan Daerah Kalimantan Tengah Nomor 3 Tahun 2022 tentang Pembinaan Bahasa Indonesia dan Pelestarian Bahasa dan Sastra Daerah telah disahkan dan ditandatangani oleh Gubernur pada 5 September 2022. Sebagaimana tanggung jawab pelestarian bahasa dan sastra daerah yang sesungguhnya berada di pundak pemerintah daerah.

“Kami sangat mengapresiasi peran aktif pemerintah daerah kabupaten/kota telah turut menyukseskan dan menyinambungkan kegiatan Revitalisasi Bahasa Daerah yang sudah berjalan 2 tahun hingga di tahapan terakhir ini yakni FTBIP,” tandasnya.

Setelah melalui serangkaian tahapan panjang RBD sejak awal tahun, tahun ini menurut Muhammad Muis, Buntok menjadi tuan rumah untuk lomba berbahasa Dayak Maanyan, sementara bahasa Dayak Ngaju dilaksanakan di Palangka Raya, dan bahasa Melayu Kotawaringin dilaksanakan di Pangkalan Bun (Kotawaringin Barat).

Selain perlombaan, akan ada ekshibisi atau penampilan berbahasa Dayak Bakumpai dari Barito Utara.

“Tiga sampai empat hari ke depan, kita akan menyaksikan adik-adik Tunas Bahasa Ibu kita dari 3 (tiga) kabupaten yang akan menunjukkan kemampuan terbaiknya berbahasa daerah. Kita doakan agar adik-adik dapat tampil maksimal dan diberikan kelancaran hingga akhir,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakannya, juara bukan tujuan. Anak-anak kita berpartisipasi dalam kegiatan ini sudah merupakan sebuah kebanggan yang luar biasa.

“Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi pula atas kerja sama yang baik antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah yang memungkinkan kegiatan ini terlaksana. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah senantiasa memberi apresiasi dan dukungan kepada semua pihak yang melakukan segala upaya yang berkaitan dengan pelindungan bahasa dan sastra daerah.”

Ia berharap, melalui Revitalisasi Bahasa Daerah ini, eksistensi bahasa daerah dapat kembali bangkit dan semakin digemari semua generasi, khususnya generasi muda. Semoga kegiatan ini dapat menjadi ruang apresiasi yang baik agar kita semua semakin bangga menggunakan bahasa daerah.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Barsel mengucapakan terima kasih atas kepercayaan Kemdikbud Ristek melalui Balai Bahasa Kalteng untuk menyelenggrakan festival Tunas Bahasa Ibu Bahasa Dayak Maanyan di Barsel. Pemkab Barsel berharap revitalisasi Bahasa Daerah terus berlanjut dengan menyasar bahasa lain yang ada di Barsel. Pemkab Barsel juga berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan bahasa daerah melalui program mulok.

Penyelenggaran FTBI itu sendiri adalah tindaklanjut dari komitmen Kemdikbud ristek dalam merevitalisasi bahasa daerah khususnya bahasa Dayak Maanyan. Pelaksanaan kegiatan ini merupakan rangkaian akhir dari revitalisasi bahasa daerah tahun 2023.
Tahun depan akan dilakukan kegiatan yang sama dengan jumlah bahasa yang lebih variatif.

Untuk itu, Balai Bahasa berharap dukungan pemerintah daerah Barito Selatan dalam program ini agar bahasa daerah khususnya Bahasa Dayak Manyan terus lestari dan tidak punah khususnya bagi penutur-penutur muda.

Pada kesempatan tersebut juga diserahkan penghargaan kepada pemerintah Kabupaten Barito Selatan, Barito Timur, dan Barito Utara atas dukungan ketiga pemkab tersebut dalam perogram Revitalisasi Bahasa Daerah Tahun 2023.

Kegiatan FTBI di Buntok ini dibuka oleh Asisten II bidang Pemkab Barito Selatan, Rahmad Nuryadin, S.H., M.H. Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumalh penjabat dari tiga kabupaten peserta kegiatan. (Shah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *