Palangka Raya, Nusaborneo.com – Di tengah riuh notifikasi dan layar yang tak pernah benar-benar padam, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah memilih satu langkah sederhana namun bermakna: mengajak siswa belajar menahan diri.
Melalui surat edaran (SE) kepada Kepala SMA, SMK, SKH se-Kalimantan Tengah nomor 400.1.2/18/2026 tentang penggunaan handphone. Pemprov Kalteng mulai mengatur penggunaan handphone di lingkungan sekolah. Bukan untuk menjauhkan teknologi dari siswa, melainkan mendekatkannya dengan cara yang lebih bijak, mendidik, membimbing, dan menanamkan kesadaran.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah (Plt Kadisdik Kalteng), Reza Prabowo, menggambarkan visi itu lewat sebuah kebiasaan kecil yang ingin dibangun di sekolah.
“Ibu, izin. Ini handphone saya, saya sudah selesai menggunakannya,” ucapnya.
Bagi Reza, pendidikan hari ini tak lagi cukup hanya mengejar nilai akademik. Ada ruang yang harus diisi dengan pembentukan karakter, tentang bagaimana teknologi digunakan dengan etika, batasan, dan tanggung jawab. Handphone, katanya, bukan musuh. Ia adalah alat belajar yang perlu diarahkan.
Kebijakan ini pun tidak berdiri sendiri. Kepala sekolah, pengawas, hingga guru didorong menjadi teladan dalam membangun disiplin digital. Di saat yang sama, pemerintah menghidupkan kembali sistem pengaduan sebagai ruang aman bagi siswa dan masyarakat untuk menyampaikan laporan, termasuk terkait penyalahgunaan teknologi di sekolah.
Di balik aturan itu, terselip harapan yang lebih luas: menciptakan ruang belajar yang tenang, aman, dan manusiawi. Penggunaan handphone tidak dilarang sepenuhnya, namun dibatasi hanya untuk kepentingan pembelajaran. Sekolah bahkan didorong menyediakan tempat penyimpanan khusus, sementara orang tua dilibatkan dalam pengawasan.
Langkah ini juga menjadi upaya mencegah bayang-bayang yang kerap menyertai dunia digital, perundungan dan cyberbullying, yang diam-diam bisa merusak rasa percaya diri anak.
Di ruang-ruang kelas Kalimantan Tengah, perubahan itu mungkin dimulai dari hal kecil: layar yang dimatikan, percakapan yang kembali hidup, dan perhatian yang utuh kepada guru. Dari sana, Pemprov Kalteng berharap lahir generasi yang tak hanya cerdas teknologi, tetapi juga bijak menggunakannya, generasi yang tahu kapan harus terhubung, dan kapan harus hadir sepenuhnya di dunia nyata. (red)













