Sampit, Nusaborneo.com – Tanaman gelinggang yang sejak lama dimanfaatkan masyarakat Dayak untuk mengatasi gatal dan ketombe, kini mengantarkan pelajar SMPN 1 Sampit meraih tiga penghargaan internasional dalam ajang World Sustainable Development Goal Challenge (WSDG) 2025 di Cyberjaya, Malaysia.
Dua siswi SMPN 1 Sampit, Elena Giselle Lantan dan Ilonka Rezky Hyzkia, sukses mempresentasikan penelitian inovatif tentang pemanfaatan gelinggang sebagai obat tradisional berbasis kearifan lokal. Hasil karya ini mendapat apresiasi tinggi berupa Gold Award Teacher Innovation, Gold Award Research Student, dan The Best Data Presentation Student.
Prestasi ini semakin istimewa karena WSDG 2025 diikuti lebih dari 4.000 peserta dari 20 negara di Asia, Eropa, dan Amerika. Capaian SMPN 1 Sampit pun tercatat sebagai sejarah baru bagi dunia pendidikan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Wakil Ketua (Waket) Komisi III DPRD Kotim, Riskon Fabiansyah, menilai keberhasilan tersebut bukan hanya membawa nama baik daerah, tetapi juga menjadi bukti bahwa kearifan lokal bisa dikembangkan menjadi inovasi berkelas dunia.
“Prestasi ini luar biasa. Bukan hanya karena mengharumkan nama Kotim dan Indonesia, tetapi juga karena mengangkat pengetahuan tradisional masyarakat Dayak ke panggung dunia. Pemerintah daerah sudah sepatutnya memberi apresiasi dan dukungan agar potensi seperti ini terus berkembang,” kata Riskon, Jumat (3/10/2025).
Ia menegaskan pencapaian ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun dapat menjadi inspirasi besar bila dikaji dengan pendekatan ilmiah.
“Ini membuktikan anak-anak kita mampu mengolah pengetahuan lokal menjadi karya yang diakui dunia. Tentu pemerintah daerah perlu memberikan perhatian lebih terhadap putra-putri terbaik Kotim yang berprestasi,” tambahnya.
Menurut Riskon, regulasi tentang pemberian penghargaan atau reward bagi pelajar berprestasi perlu dioptimalkan. Hal itu agar setiap capaian anak daerah tidak berhenti sebatas seremonial, tetapi benar-benar memberi motivasi nyata bagi generasi lainnya.
“Jangan sampai prestasi sebesar ini hanya lewat begitu saja. Harus ada bentuk apresiasi yang nyata agar anak-anak kita semakin semangat berkarya,” tegasnya.
Selain menjadi kebanggaan daerah, prestasi ini diharapkan mampu memicu semangat pelajar lainnya untuk mengembangkan penelitian berbasis potensi lokal. Dengan begitu, kearifan tradisional tidak hanya lestari, tetapi juga memberi manfaat lebih luas di tingkat global. (red)



