Palangka Raya, Nusaborneo.com – Fenomena sejumlah pria yang tampil dengan gaya menyerupai wanita atau kerap disebut “boti” menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kemunculan mereka yang terekam dalam berbagai unggahan video dan foto disebut-sebut terjadi di Kota Palangka Raya dan memicu beragam reaksi dari masyarakat.
Dalam beberapa unggahan yang beredar luas, terlihat sejumlah pria mengenakan pakaian serta berpenampilan layaknya perempuan. Gaya berjalan hingga ekspresi yang ditampilkan dinilai sebagian masyarakat menimbulkan rasa kurang nyaman, terlebih jika ditampilkan di ruang publik dan diakses luas melalui media sosial.
Fenomena tersebut pun memunculkan kekhawatiran sejumlah pihak terkait potensi pengaruhnya terhadap generasi muda, khususnya anak-anak dan remaja yang aktif menggunakan media sosial.
Menanggapi hal tersebut, Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kalimantan Tengah, Widiya Kumala Wati yang akrab disapa Kak Yaya, menilai fenomena tersebut perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi para orang tua dalam mengawasi pergaulan anak.
“Keberadaan konten seperti itu bisa saja memberikan pengaruh bagi anak-anak jika tidak disikapi dengan bijak. Karena itu pengawasan orang tua sangat penting,” ujar Yaya, Jumat (6/3/2026) malam.
Ia menekankan bahwa keluarga memiliki peran utama dalam membentuk karakter anak. Orang tua diharapkan lebih aktif mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan positif yang dapat menumbuhkan kreativitas dan kepercayaan diri.
“Anak-anak sebaiknya diarahkan ke kegiatan yang bermanfaat seperti olahraga, seni, atau aktivitas kreatif lainnya sehingga energi mereka tersalurkan dengan baik,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan kepada anak juga harus bersifat edukatif. Orang tua diminta memberikan pemahaman dengan cara yang tenang dan mendidik, bukan dengan kemarahan atau hukuman yang justru dapat berdampak negatif.
“Penguatan karakter harus dimulai dari rumah dan juga didukung oleh lingkungan sekolah. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sangat penting,” tambahnya.
Yaya juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada anak mengenai batasan perilaku serta nilai-nilai yang berlaku di masyarakat agar mereka dapat tumbuh dengan pemahaman yang baik tentang identitas dan etika pergaulan.
Ia berharap masyarakat dapat menyikapi fenomena yang beredar di media sosial secara bijak serta lebih mengutamakan pembinaan terhadap generasi muda melalui pendidikan karakter di lingkungan keluarga maupun sekolah. (red/am)













