NasionalNews

Wakapolri Soroti Kekeringan Ekstrem di Lahan Gambut Kalteng

×

Wakapolri Soroti Kekeringan Ekstrem di Lahan Gambut Kalteng

Sebarkan artikel ini
Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo saat diwawancarai wartawan, Jumat (11/9/2026).

Palangka Raya, Nusaborneo.com – Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo menyoroti kondisi kekeringan ekstrem di sejumlah kawasan lahan gambut di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Hal itu disampaikan Dedi saat mengecek langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Posko Taktis Polda Kalteng, kawasan Kilometer 21, Jumat (11/9/2026).

Dedi mengatakan, kondisi kekeringan menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla, terutama pada periode Agustus hingga September.

Berdasarkan informasi yang diterimanya dari Kapolda Kalteng, muka air tanah di sejumlah kawasan gambut bahkan telah mencapai 120 sentimeter.

“Untuk gambut, batas paling aman muka air tanah itu sekitar 40 sentimeter. Sekarang di Kalimantan Tengah sudah ada yang mencapai 120 sentimeter. Artinya, tingkat kekeringannya sangat tinggi,” ujar Dedi.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat risiko kebakaran semakin tinggi. Penanganan juga tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman dari udara maupun penyiraman air dari permukaan.

Pasalnya, kebakaran pada lahan gambut dapat menjalar hingga ke bawah permukaan tanah sehingga membutuhkan metode penanganan khusus.

“Untuk kebakaran yang besar dan dalam, tidak bisa hanya water bombing. Tidak bisa hanya pemadaman dari permukaan,” katanya.

Dedi menyebut sejumlah langkah mitigasi perlu disiapkan, antara lain penggunaan alat berat, pembangunan sekat kanal, hingga pembuatan sumur bor.

“Harus disiapkan alat berat, sekat kanal yang kemudian diisi air, serta sumur bor yang juga sangat efektif untuk mitigasi,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan secara maksimal, terutama ketika tingkat kekeringan sudah sangat tinggi.

“Usaha maksimal wajib dilaksanakan. Tetapi kalau kondisi sudah masuk kepada kekeringan yang sangat kuat dan tingkat kekeringannya sangat tinggi, harus betul-betul ekstra,” tegas Dedi. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *