Palangka Raya, Nusaborneo.com – Lonjakan harga bahan bakar jenis Dexlite mulai melumpuhkan operasional armada pemadam kebakaran swasta di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sejumlah truk tangki milik relawan kini terpaksa terparkir di posko demi menghemat sisa bahan bakar untuk kondisi darurat yang benar-benar kritis.
Pemandangan berbeda terlihat di beberapa markas relawan pemadam kebakaran swasta, Jumat (8/5/2026). Armada yang biasanya siaga berkeliling kota untuk merespons laporan kebakaran, kini lebih banyak diam membisu di bawah atap garasi.
Kondisi itu bukan tanpa alasan. Harga Dexlite yang melonjak hingga Rp26.600 per liter dari sebelumnya Rp24.150 membuat biaya operasional semakin membebani relawan yang selama ini mengandalkan dana swadaya dan patungan anggota.
Bagi tim non-profit, kenaikan harga BBM tersebut bukan sekadar selisih angka, melainkan ancaman nyata terhadap keberlangsungan pelayanan kemanusiaan di lapangan.
Relawan mengaku kini harus menghitung secara ketat setiap liter bahan bakar yang tersisa. Mereka memilih menahan armada tetap berada di posko agar dapat digunakan sewaktu-waktu jika terjadi kebakaran besar atau kondisi yang benar-benar darurat.
Situasi semakin rumit sejak kelangkaan BBM terjadi di sejumlah SPBU di Palangka Raya. Antrean panjang kendaraan membuat relawan enggan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan bahan bakar yang belum tentu tersedia.
Kepala Bagian Operasi Emergency Response Palangka Raya, Yustinus Exaudi, mengatakan keputusan membatasi mobilitas armada merupakan langkah paling realistis di tengah tekanan biaya operasional yang terus meningkat.
Menurutnya, relawan kini berada di titik jenuh karena harus memilih antara memenuhi kebutuhan keluarga atau membeli BBM demi menjalankan misi sosial membantu masyarakat.
“Truk kami bukan berhenti karena malas beroperasi, tetapi karena biaya BBM sudah terlalu berat. Kalau terjadi kebakaran besar malam ini, bisa jadi kami harus membuka donasi dulu hanya untuk menghidupkan mesin,” ujar Yustinus didampingi Pelaksana Harian Ketua Emergency Response Palangka Raya, Christian Tito.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah dan pemangku kebijakan. Sebab, lumpuhnya armada pemadam swasta akan berdampak besar terhadap penanganan kebakaran, terutama saat ancaman kebakaran hutan dan lahan mulai meningkat memasuki musim kemarau.
Selama ini, relawan pemadam swasta menjadi garda terdepan membantu penanganan kebakaran pemukiman maupun karhutla di Palangka Raya. Namun tanpa dukungan kebijakan berupa subsidi atau skema harga khusus BBM bagi kendaraan layanan sosial, keberlangsungan operasional mereka diperkirakan semakin terancam.
Jika kondisi terus berlanjut, bukan tidak mungkin armada penyelamat hanya akan menjadi pajangan di posko, sementara kebakaran terus mengancam keselamatan warga dan lingkungan. (red/jn)













