Sampit, Nusaborneo.com – Asap pekat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum juga beranjak dari sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
Selama berbulan-bulan, warga harus menjalani aktivitas di tengah kualitas udara yang memburuk. Bagi sebagian orang, kondisi itu bukan sekadar mengganggu jarak pandang, tetapi juga membuat tubuh kesulitan bernapas.
Batuk, sesak napas, hingga gangguan saluran pernapasan menjadi keluhan yang semakin sering ditemui.
Di tengah kondisi tersebut, RSUD dr. Murdjani Sampit terus membuka pelayanan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur itu menjadi salah satu tempat rujukan bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan medis.
Paparan asap karhutla yang berlangsung lebih dari tiga bulan mulai memberikan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Ribuan warga dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
Di RSUD dr. Murdjani Sampit, pasien datang dengan beragam keluhan, mulai dari batuk, sesak napas, hingga gangguan pernapasan.
Tak hanya mereka yang sebelumnya dalam kondisi sehat. Warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan bronkitis juga menjadi kelompok yang rentan mengalami kekambuhan.
Sejumlah pasien bahkan harus kembali mendapatkan perawatan setelah sebelumnya dinyatakan membaik.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa paparan asap karhutla tidak bisa dipandang sebagai persoalan sementara.
Dokter Spesialis Paru RSUD dr. Murdjani Sampit, Muhammad Taufiqurrahman, mengingatkan adanya risiko kesehatan akibat paparan asap, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat, RSUD dr. Murdjani Sampit berupaya memastikan warga yang terdampak asap bisa memperoleh penanganan sesegera mungkin.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah memangkas birokrasi pelayanan bagi pasien yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.
Rumah sakit juga menyatakan biaya pengobatan bagi pasien yang terdampak paparan asap diberikan secara gratis.
Wakil Direktur Pelayanan Kesehatan RSUD dr. Murdjani Sampit, Anggun Imam Hermawan, mengatakan pihak rumah sakit berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang membutuhkan dan memangkas birokrasi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya rumah sakit menghadapi dampak kesehatan yang muncul di tengah bencana karhutla.
Namun, persoalan asap tidak berhenti di ruang-ruang perawatan rumah sakit. Dalam sebulan terakhir, kepulan asap yang semakin pekat turut mengganggu aktivitas masyarakat.
Kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah bahkan harus disesuaikan. Sebagian sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh karena adanya kekhawatiran terhadap kesehatan dan keselamatan anak-anak.
Bagi orangtua, kondisi tersebut menjadi pilihan untuk mengurangi paparan asap terhadap anak-anak mereka.
Sementara bagi warga yang harus tetap beraktivitas di luar rumah, asap menjadi ancaman yang terus membayangi.
Belum diketahui secara pasti kapan kondisi karhutla akan berakhir.
Yang pasti, selama asap masih menyelimuti wilayah Kotawaringin Timur, kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan tetap menjadi perhatian.
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kalimantan Tengah per 26 September 2026, jumlah penderita ISPA mencapai 91.342 kasus. Kasus tersebut tersebar di 14 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah. Angka itu menggambarkan besarnya dampak kesehatan yang muncul di tengah kepungan asap karhutla.
Di tengah situasi tersebut, RSUD dr. Murdjani Sampit terus menjadi salah satu tempat warga mencari pertolongan.
Bagi mereka yang datang dengan napas tersengal atau penyakit pernapasan yang kembali kambuh, rumah sakit bukan hanya tempat berobat.
Di tengah udara yang sulit dihirup, rumah sakit menjadi tempat untuk kembali mendapatkan ruang bernapas. (red)













