Bagi para pedagang kaki lima, situasi ini menjadi tantangan tersendiri. Mereka tetap membuka lapak di tengah kepungan asap dengan harapan dagangan bisa terjual. Namun, jumlah pembeli yang terus menyusut membuat penghasilan harian ikut merosot.
Dampak tersebut dirasakan langsung oleh Dewi, salah seorang pedagang kue di kawasan Taman Kota Sampit. Ia mengaku kondisi penjualan saat kabut asap tidak seramai biasanya.
Untuk mengurangi risiko kerugian, para pedagang terpaksa menyiasati jumlah dagangan yang dibawa setiap hari. Kue dan makanan yang dijual pun dikurangi agar tidak banyak tersisa ketika pembeli sepi.
Langkah itu menjadi pilihan sulit bagi pedagang kecil. Di satu sisi, mereka harus tetap berjualan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, membawa terlalu banyak dagangan berisiko menambah kerugian jika tidak habis terjual.
Berkurangnya aktivitas masyarakat di luar rumah turut memengaruhi keramaian kawasan Taman Kota Sampit yang selama ini menjadi salah satu tempat warga mencari jajanan.
Bagi pedagang yang mengandalkan pendapatan harian, penurunan jumlah pembeli bukan sekadar persoalan sepinya lapak. Kondisi tersebut juga berdampak pada kemampuan mereka memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Para pedagang berharap kabut asap segera menipis sehingga aktivitas masyarakat kembali normal dan pembeli kembali berdatangan.
Mereka juga berharap pemerintah pusat dan daerah terus meningkatkan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan agar kabut asap tidak berlarut-larut.
Sebab, bagi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari hasil berjualan, dampak karhutla tidak hanya dirasakan melalui buruknya kualitas udara. Ada pula penghasilan yang berkurang dan usaha kecil yang harus tetap bertahan di tengah kondisi sulit. (red)













