Pangkalan Bun, Nusaborneo.com – Investasi kini semakin dekat dengan kehidupan anak muda. Namun, kemudahan mengakses berbagai produk investasi juga menuntut pengetahuan agar keputusan keuangan tidak sekadar mengikuti tren.
Hal itu menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam kegiatan Sekolah Pasar Modal bagi mahasiswa baru Universitas Antakusuma, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Kegiatan yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Tengah tersebut menjadi bagian dari rangkaian Road to Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026.
Para mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai instrumen pasar modal sekaligus diajak memahami cara kerja, manfaat, hingga risiko investasi sebelum menentukan pilihan.
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah Primandanu Febriyan Aziz mengatakan, investasi tidak semestinya dipahami hanya sebagai cara mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat.
“Investasi adalah bagian dari proses membangun kebiasaan finansial yang disiplin dan mempersiapkan berbagai tujuan di masa depan,” ujar Primandanu.
Menurut dia, pemahaman investasi sejak usia muda dapat membantu seseorang memiliki waktu lebih panjang untuk menyusun fondasi keuangan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Edukasi tersebut berlangsung di tengah pertumbuhan jumlah investor pasar modal di Kalimantan Tengah.
Data yang disampaikan dalam kegiatan itu menunjukkan, jumlah investor di Kalimantan Tengah meningkat dari 118.611 investor pada Juli 2025 menjadi 264.721 investor pada Juli 2026.
Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi salah satu daerah dengan jumlah investor yang cukup besar. Hingga Juli 2026, tercatat 31.467 investor atau sekitar 11,87 persen dari total investor di Kalimantan Tengah.
Jumlah tersebut menempatkan Kotawaringin Barat di posisi ketiga setelah Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kapuas.
Seiring pertumbuhan jumlah investor, nilai transaksi saham di Kalimantan Tengah juga mengalami peningkatan. Nilainya naik dari Rp 0,12 triliun pada Juli 2025 menjadi Rp 0,18 triliun pada Juli 2026.
Meski demikian, pertumbuhan tersebut dinilai perlu dibarengi dengan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai karakteristik produk investasi dan risikonya.
Rektor Universitas Antakusuma Fatchurahman mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan yang tidak hanya berkaitan dengan bidang akademik.
Menurut dia, kemampuan mengelola keuangan dan memahami investasi juga menjadi bekal penting bagi mahasiswa ketika memasuki kehidupan setelah kampus.
“Kami berharap kegiatan Sekolah Pasar Modal ini dapat memberikan wawasan baru bagi mahasiswa Universitas Antakusuma, sehingga mereka tidak hanya memiliki pemahaman akademik, tetapi juga mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab,” kata Fatchurahman.
Dia berharap kerja sama dengan OJK dan BEI dapat terus dikembangkan untuk memperkuat literasi keuangan di lingkungan perguruan tinggi.
Hal senada disampaikan Staf Ahli Bupati Kotawaringin Barat Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Alfa Husain. Ia mengapresiasi edukasi pasar modal yang menyasar mahasiswa.
Menurut Alfa, literasi keuangan, termasuk pemahaman mengenai pasar modal, perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk perguruan tinggi.
“Kami berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkaya pengetahuan, memahami risiko investasi, dan menjadi bagian dari masyarakat yang semakin cakap dalam mengelola keuangan,” ujarnya.
Kegiatan di Universitas Antakusuma merupakan bagian dari upaya OJK Kalteng dan BEI Kalteng memperluas edukasi pasar modal kepada kalangan muda.
Sepanjang 2026, keduanya bersama perusahaan sekuritas telah menggelar sembilan kegiatan Sekolah Pasar Modal Goes to Campus di tujuh perguruan tinggi di Kalimantan Tengah.
Rangkaian kegiatan tersebut telah menghasilkan 816 Single Investor Identification (SID) baru.
Dalam kegiatan di Universitas Antakusuma, mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi mengenai pasar modal. Mereka juga dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan dan cara mengenali investasi ilegal serta penipuan keuangan.
Manajer OJK Provinsi Kalimantan Tengah Ika Budhi Pratiwi memberikan materi mengenai pengelolaan keuangan serta kewaspadaan terhadap investasi ilegal dan penipuan keuangan.
Sementara itu, Deputi Kepala BEI Kalimantan Tengah Randy Perdana menjelaskan pasar modal dan berbagai instrumen investasi.
Perwakilan perusahaan sekuritas kemudian memperkenalkan aplikasi perdagangan saham secara daring serta dasar-dasar analisis saham.
Bagi mahasiswa, pengenalan tersebut menjadi langkah awal untuk memahami bahwa keputusan investasi membutuhkan pengetahuan dan pertimbangan, bukan sekadar mengikuti apa yang sedang ramai diperbincangkan.
Dengan bertambahnya investor muda, edukasi di lingkungan kampus diharapkan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan literasi agar mahasiswa mampu mengenali produk investasi yang sesuai, memahami risikonya, dan mengelola keuangan secara lebih terencana. (red/shah)













