CollectionNews

Meninggalkan Jejak Dunia Lewat Kata, Julak Ibak Putra Samba Bakumpai Berpulang

×

Meninggalkan Jejak Dunia Lewat Kata, Julak Ibak Putra Samba Bakumpai Berpulang

Sebarkan artikel ini
Alm. Bakran Asmawi (berdiri paling kiri) bersama sejumlah pemuda asal Desa Samba Bakumpai saat menempuh pendidikan SGB di Sampit pada Tahun 1953. (ist)

Palangka Raya, Nusaborneo.com – Kabar duka menyelimuti dunia jurnalistik nasional. Bakran Asmawi, yang akrab disapa Julak Ibak, putra terbaik asal Desa Samba Bakumpai, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, wafat di Jakarta dan dimakamkan pada 23 Februari 2026.

Perjalanan panjang Julak Ibak di media bermula saat ia bergabung dengan LKBN ANTARA pada 1967. Setahun kemudian, ia dipercaya menjalankan tugas internasional ke Malaysia bersama Andi Baso Mappatoto, membahas isu-isu kebahasaan serumpun yang kala itu mengemuka di kawasan Asia Tenggara.

Nama Bakran kian dikenal ketika pada 1979 ia menjadi wartawan Indonesia pertama yang diizinkan masuk Vietnam pascaperistiwa 1965. Bersama TVRI dan rekan jurnalis, ia meliput langsung konflik perbatasan Vietnam–Cina—sebuah tonggak penting dalam sejarah liputan perang Indonesia.

Prestasi internasionalnya berlanjut saat ia terpilih sebagai penerima beasiswa Dag Hammarskjöld Memorial pada 1983, mewakili Asia. Pada 1985, ANTARA menerbitkan buku Pesan Pembaharuan dari Bandung: 30 Tahun Konferensi Asia-Afrika yang ditulis dan disuntingnya bersama sejumlah wartawan senior.

Memasuki paruh kedua 1980-an, Bakran dipercaya memimpin biro ANTARA di New York. Ia meraih gelar Master of Science dari Universitas Ohio pada 1988, lalu meliput kiprah Soeharto sebagai Ketua Gerakan Nonblok di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1992. Di tahun yang sama, ia meliput KTT Bumi di Rio de Janeiro dan mewawancarai Carlos Andrés Pérez di Caracas.

Sekembali ke Tanah Air pada 1993, Bakran menjabat Ketua Dewan Direktur Lembaga Pendidikan Jurnalistik ANTARA hingga pensiun. Kiprahnya berlanjut di dunia televisi—mulai RCTI, MetroTV, hingga tvOne—seraya berbagi ilmu sebagai produser, perumus standar pemberitaan, dan pengajar teknik penulisan naskah berita. Ia juga mengabdikan diri di Universitas Pelita Harapan.

Lahir di Tumbang Samba pada 22 Mei 1939, Bakran tumbuh sebagai saksi sejarah perlawanan rakyat Dayak terhadap kembalinya kolonialisme. Prestasi akademiknya konsisten sejak bangku sekolah hingga mengantarkannya meraih beasiswa ke IKIP Malang. Di Jakarta, ia dikenal tegas menjaga martabat identitas Dayak dan kerap menyuarakan pandangan damai tentang pengelolaan lingkungan sebagai akar harmoni antarsuku.

Julak Ibak telah berpulang, namun warisan keteladanan, keberanian liputan, dan ketajaman pena yang menembus batas negara akan terus hidup. Selamat jalan, Julak Ibak—namamu abadi dalam sejarah pers Indonesia. (shah/kas/dirangkum dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *