Kondisi tersebut berdampak terhadap kualitas udara sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat, khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Data Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah menunjukkan, kasus ISPA mengalami peningkatan signifikan dari Juli ke Agustus. Jumlah kasus bertambah 5.303 kasus atau sekitar 53 persen. Secara keseluruhan, kasus ISPA pada periode tersebut mencapai lebih dari 24.000 kasus. Sebanyak 146 warga bahkan harus menjalani perawatan inap akibat kondisi kesehatan yang dialami.
Pada Agustus, Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi di Kalimantan Tengah, yakni mencapai 2.877 kasus.
Ancaman kesehatan akibat buruknya kualitas udara tidak serta-merta membuat seluruh warga membatasi aktivitas di luar ruangan.
Pantauan di kawasan pusat Kota Palangka Raya menunjukkan masih ada warga yang melakukan aktivitas fisik meski kabut asap cukup pekat.
Salah satunya terlihat di sekitar kawasan Rumah Jabatan Gubernur Kalimantan Tengah yang menjadi lokasi warga berolahraga.
Sejumlah warga tetap berolahraga meski kondisi udara dipenuhi asap. Beberapa di antaranya bahkan tidak menggunakan masker.
Alasan warga beragam. Ada yang mengaku lupa membawa masker, sementara sebagian lainnya merasa kurang nyaman menggunakan masker ketika berolahraga karena membuat napas terasa lebih berat.
“Olahraga itu sendiri saya sudah terbiasa ” ujar Roy, salah seorang warga.
Sementara warga lainnya, Sari, mengaku merasakan sedikit sesak ketika beraktivitas di tengah kondisi udara tersebut.
“Agak sedikit sesak sih” kata Sari.
Di tengah kualitas udara yang memburuk, aktivitas fisik di luar ruangan perlu mendapat perhatian.
Saat berolahraga, frekuensi dan volume pernapasan seseorang meningkat. Kondisi itu dapat menyebabkan tubuh menghirup udara dalam jumlah lebih banyak dibandingkan saat beraktivitas ringan.
Karena itu, masyarakat diimbau mempertimbangkan kondisi kualitas udara sebelum melakukan kegiatan di luar ruangan.
Pemerintah juga meminta warga menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah sebagai salah satu upaya mengurangi paparan asap.
Ancaman ISPA juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda memasuki awal September.
Hingga 3 September, Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah mencatat 1.078 kasus ISPA yang tersebar di 14 kabupaten dan kota. Dari jumlah tersebut, 15 pasien harus menjalani rawat inap. Palangka Raya kembali menjadi daerah dengan catatan kasus tertinggi, yakni 277 kasus per hari.
Selain meningkatnya kasus ISPA, kondisi kabut asap juga berdampak terhadap kebutuhan logistik kesehatan. Stok masker, obat-obatan, dan vitamin di Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah mulai menipis. Dinas kesehatan di 14 kabupaten dan kota pun terus meminta tambahan logistik kepada pemerintah provinsi.
Dampak kabut asap di Kalimantan Tengah tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan. Data Dinkes Kalteng yang dihimpun menunjukkan sebanyak 2.775.310 jiwa terdampak kabut asap yang tersebar di 14 kabupaten dan kota.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat dihadapkan pada kebutuhan untuk tetap menjalankan aktivitas sehari-hari sekaligus mengurangi risiko paparan asap.
Masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak di luar rumah disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker juga dianjurkan bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah.
Kabut asap karhutla yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Tengah menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kesehatan masyarakat. (red)













