Palangka Raya, Nusaborneo.com – Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran meletakkan tiang perdana pembangunan Huma Betang di kawasan bekas lahan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Jalan Jenderal Imam Bonjol, Palangka Raya, Kamis. Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya pembangunan rumah adat yang diharapkan menjadi pusat pelestarian budaya Dayak sekaligus ikon baru Kalimantan Tengah.
Huma Betang yang akan dibangun terdiri atas tiga bangunan sebagai simbol sila Persatuan Indonesia. Bangunan utama dirancang berukuran 17 x 80 meter, sebagai representasi semangat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dengan kapasitas lebih dari 10.000 orang.
Selain bangunan utama, kawasan tersebut juga akan dilengkapi galeri, museum, serta mess kontingen untuk mendukung berbagai kegiatan budaya dan edukasi.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menargetkan Huma Betang ini menjadi yang terbesar di dunia. Sekitar 90 persen material bangunan akan menggunakan kayu ulin yang dikenal memiliki daya tahan tinggi sehingga diharapkan mampu menjadi warisan budaya yang bertahan hingga generasi mendatang.
Dalam sambutannya, Agustiar mengatakan Huma Betang tidak hanya hadir sebagai bangunan fisik, tetapi juga menjadi simbol persatuan, gotong royong, dan kesetaraan masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan dan Borneo.
“Huma Betang ini menjadi simbol persatuan, gotong royong, dan kesetaraan bagi seluruh sub suku Dayak di Pulau Kalimantan dan Borneo,” kata Agustiar.
Ia menambahkan, keberadaan Huma Betang diharapkan dapat memperkuat identitas budaya sekaligus menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur.
Menurutnya, bangunan tersebut akan menjadi ruang bersama untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan adat dan budaya, mulai dari musyawarah besar, kongres internasional, seminar nasional maupun internasional, hingga upacara adat Dayak berskala internasional.
“Huma Betang didesain untuk merawat kearifan lokal, melestarikan adat istiadat, serta menjadi episentrum peradaban dan edukasi bagi masyarakat Dayak khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya,” ujarnya.
Pembangunan Huma Betang diperkirakan berlangsung selama dua tahun. Karena itu, Agustiar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mengawal proses pembangunan agar berjalan lancar, aman, serta selesai sesuai target waktu dan kualitas yang telah direncanakan.
Peletakan tiang perdana tersebut turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Kalimantan Tengah, Sekretaris Daerah Linae Victoria Aden, Sekretaris Jenderal Masyarakat Adat Dayak Nasional (MADN) Yakobus Kumis, jajaran kepala organisasi perangkat daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta pelajar dan mahasiswa. (red)













