Pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus dialog untuk membahas kondisi terkini Kalteng. Agustiar menilai, menghadapi berbagai tantangan daerah, termasuk karhutla, tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Dukungan masyarakat dan peran tokoh agama juga dibutuhkan untuk menjaga kerukunan serta membangun kepedulian bersama.
“Hanya dengan kebersamaan semua elemen masyarakat, termasuk para tokoh agama, kita mampu melewati masa-masa sulit, khususnya menghadapi karhutla saat ini,” kata Agustiar.
Dia berharap para tokoh agama terus menyampaikan pesan-pesan damai kepada umat dan masyarakat luas. Menurutnya, komunikasi yang baik, sikap saling menghormati, serta kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian penting dalam menjaga situasi Kalteng tetap aman dan kondusif.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalteng, Khairil Anwar, menyambut pentingnya dialog dan kebersamaan dalam menghadapi situasi tersebut. Dia mengajak masyarakat mengedepankan sikap sabar, syukur, ikhlas, dan ikhtiar. MUI Kalteng bersama organisasi keagamaan Islam lainnya, lanjutnya, siap berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing demi menjaga keharmonisan masyarakat.
Senada, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Kalteng, Pdt. Ayang, mengingatkan pentingnya merawat falsafah Huma Betang sebagai landasan kehidupan masyarakat Dayak. Nilai gotong royong, toleransi, dan persatuan yang terkandung di dalamnya dinilai menjadi kekuatan untuk menghadapi persoalan bersama, termasuk dampak kemarau dan karhutla.
Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kalteng, H. M. Wahyudie F. Dirun, juga mengajak masyarakat menjaga suasana tetap sejuk dalam menyampaikan aspirasi. Dia mengingatkan bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat, tetapi perlu disampaikan secara santun tanpa mengabaikan persatuan dan keharmonisan daerah.
Dari unsur Hindu Kaharingan, Sugito mengapresiasi upaya pemerintah dalam menangani kemarau dan karhutla. Dia menyebut umat beragama juga melakukan ikhtiar melalui doa bersama dan ritual keagamaan untuk memohon turunnya hujan. Selain itu, masyarakat diingatkan untuk menjaga lingkungan dan bersama-sama mencegah kebakaran agar tidak meluas.
Perwakilan Keuskupan Katolik, Cornelius Fallo, turut menekankan pentingnya menjaga bumi sebagai rumah bersama. Dia merujuk pada ensiklik Laudato Si’ yang mengingatkan manusia akan tanggung jawab merawat lingkungan. Cornelius juga mengajak masyarakat menyampaikan pendapat secara religius dan santun, sembari mendukung upaya penanganan karhutla yang dilakukan pemerintah.
Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Kalteng, Marsma TNI Muhammad Nur, menyoroti pentingnya peran tokoh agama dalam mengedukasi masyarakat agar bijak menggunakan media sosial. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat diminta lebih selektif memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya agar tidak memicu kesalahpahaman dan mengganggu kondusivitas daerah.
Pertemuan tersebut diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dalam menjaga kerukunan, merawat lingkungan, serta menghadapi karhutla bersama. Kegiatan itu turut dihadiri Wakil Gubernur Kalteng H. Edy Pratowo dan Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng Linae Victoria Aden, bersama sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya. (red)













