Pesan itu disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid saat menjadi pembicara dalam Indonesia Youth Summit 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026).
Meutya mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil peran dalam perkembangan teknologi global. Dengan sekitar 260 juta pengguna internet dan kontribusi ekonomi digital mencapai 30 persen dari total ekonomi digital ASEAN, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi negara yang tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi juga menghasilkan inovasi.
Menurutnya, tantangan menuju Indonesia Emas 2045 bukan sekadar memperluas penggunaan teknologi. Lebih dari itu, Indonesia harus mampu melahirkan talenta yang memiliki kemampuan menciptakan pengetahuan, teknologi, dan solusi bagi persoalan masyarakat.
“Dalam 20 tahun menuju Indonesia Emas 2045, kita juga perlu bertanya, apakah Indonesia akan menjadi bangsa pengguna teknologi yang diciptakan oleh bangsa lain, atau kita ingin bergerak menjadi bangsa yang ikut menciptakan teknologi, pengetahuan, dan juga solusi bagi dunia,” ujar Meutya.
Meutya mengingatkan perkembangan AI akan membawa perubahan besar terhadap kebutuhan tenaga kerja. Sejumlah pekerjaan yang selama ini mengandalkan aktivitas rutin dan berulang berpotensi tergantikan oleh otomatisasi.
Dalam proyeksi yang disampaikannya, sekitar 92 juta pekerjaan diperkirakan tergantikan pada 2030. Namun, pada saat yang sama, teknologi juga diproyeksikan membuka sekitar 170 juta pekerjaan baru.
Kondisi tersebut membuat generasi muda perlu mempersiapkan keterampilan baru agar tidak tertinggal.
Dia menyebut kemampuan bekerja bersama AI, penguasaan teknologi, big data, fintech, machine learning, hingga pengembangan perangkat lunak akan semakin dibutuhkan.
“Pekerjaan yang sifatnya rutin, repetitif, terstruktur, relatif mudah distandardisasi, memang akan menjadi kelompok yang paling rentan untuk terotomatisasi,” jelasnya.
Meutya juga mengungkapkan sekitar 62 persen perusahaan mencari tenaga kerja yang mampu bekerja dengan AI. Sementara itu, 77 persen perusahaan melakukan peningkatan dan pengembangan keterampilan pekerjanya.
Artinya, kemampuan beradaptasi menjadi salah satu bekal penting bagi anak muda dalam menghadapi perubahan dunia kerja.
Untuk memperkuat daya saing generasi muda, pemerintah mendorong pengembangan pendidikan sains dan teknologi, riset, serta kolaborasi antara perguruan tinggi, startup, dan investor.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Garuda Spark Innovation Hub. Program ini telah mengembangkan 10 Innovation Hub, menjangkau 15.700 talenta, membina 80 startup, serta mencatat investasi langsung mencapai Rp 429,5 miliar.
Meutya menilai pengembangan teknologi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan individu. Dibutuhkan ekosistem yang mendukung, mulai dari infrastruktur digital, ketersediaan data berkualitas, pengembangan talenta, hingga akses pembiayaan.
“Kita memerlukan fondasi yang saling melengkapi, infrastruktur digital dan komputasi yang memadai, tata kelola dan ketersediaan data yang berkualitas, pengembangan talenta, riset, dan inovasi, serta akses pembiayaan dan pasar,” paparnya.
Di sisi lain, pemerintah juga memperkuat tata kelola AI melalui pengajuan Peraturan Presiden tentang Etika AI dan Peta Jalan AI.
Menurut Meutya, regulasi diperlukan agar perkembangan teknologi tetap berjalan seiring dengan perlindungan masyarakat.
Dia menegaskan aturan bukan dimaksudkan untuk membatasi kreativitas, melainkan memastikan inovasi tidak menimbulkan dampak yang merugikan.
“Bukan untuk menghambat inovasi, tapi untuk membuat sebuah inovasi itu aman dan secure, karena pemerintah juga tugasnya adalah melakukan perlindungan bagi rakyatnya dalam hal apa pun,” tegasnya.
Meutya juga mengingatkan bahwa keberhasilan pemanfaatan AI tidak semestinya hanya diukur dari kecanggihan teknologi. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana teknologi tersebut mampu menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat.
Dia mencontohkan pemanfaatan AI dan Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lumbung padi di Sragen.
Teknologi serupa juga dimanfaatkan untuk membantu petambak ikan nila di Sukabumi menghemat penggunaan listrik. Sementara bagi pelaku UMKM, AI dapat membantu membaca data pelanggan sehingga strategi usaha bisa lebih tepat sasaran.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak harus selalu hadir dalam bentuk aplikasi canggih yang rumit. Jika digunakan secara tepat, AI bisa membantu pekerjaan sehari-hari, meningkatkan produktivitas, hingga membuka peluang ekonomi baru.
Namun, Meutya mengingatkan pentingnya keberagaman data dalam pengembangan AI. Tanpa data yang mewakili kondisi masyarakat Indonesia secara luas, teknologi berisiko menghasilkan informasi yang bias.
“AI baru menjadi bisa dipertanggungjawabkan ketika dia mengoleksi data yang beragam. Selama belum, maka dia menjadi teknologi yang sangat bias,” ungkapnya.
Di tengah kemajuan AI, Meutya mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan kemampuan berpikir kritis dan rasa tanggung jawab.
Dia menyebut ada tiga hal utama yang perlu dimiliki anak muda untuk menjadi pemimpin di era digital, yakni berani berpikir kritis dan bertanya, berani menciptakan inovasi, serta bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan AI jangan sampai membuat generasi muda kehilangan inisiatif untuk berpikir dan berkarya.
“Menjadi pengguna itu memang nyaman sekali, teman-teman. Saking nyamannya, kita cenderung akan memilih menjadi pengguna saja,” ujarnya.
Meutya menegaskan teknologi secanggih apa pun tetap harus berada di bawah kendali manusia. Sebab, ada nilai-nilai yang tidak bisa sepenuhnya digantikan mesin, seperti empati, kepedulian, dan kecintaan terhadap tanah air.
Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028, dia mengajak generasi muda menyatukan pengetahuan, keberanian berinovasi, dan semangat kebangsaan untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang mampu menciptakan teknologi sendiri.
“Meskipun teknologi sudah bisa seperti itu, keputusan akhir harus ada di manusia. Kita harus jadi pemimpin dari AI itu sendiri. Ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan, ada empati, dan juga terakhir yang paling utama, cinta tanah air, karena AI tidak punya tanah air,” pungkasnya. (red)













