News

Asap Karhutla Bikin Udara Palangka Raya Tidak Baik, Dalam 2 Jam Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

×

Asap Karhutla Bikin Udara Palangka Raya Tidak Baik, Dalam 2 Jam Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Sebarkan artikel ini
Grafik pemantauan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut BMKG Palangka Raya menunjukkan lonjakan konsentrasi PM2.5 hingga mencapai kategori Sangat Tidak Sehat pada Senin (27/7/2026) pagi. (ist)

Palangka Raya, Nusaborneo.com – Kualitas udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, memburuk drastis pada Senin (27/7/2026) pagi. Hanya dalam rentang waktu sekitar dua jam, konsentrasi partikulat halus (PM2.5) melonjak tajam hingga menempatkan kualitas udara pada kategori Sangat Tidak Sehat.

Data pemantauan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut BMKG Palangka Raya menunjukkan, pada pukul 08.00 WIB konsentrasi PM2.5 masih berada di angka 7,9 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori sedang.

Namun, satu jam kemudian atau pukul 09.00 WIB, angkanya melonjak menjadi 137,8 mikrogram per meter kubik yang masuk kategori tidak sehat. Kondisi semakin memburuk pada pukul 10.00 WIB saat konsentrasi PM2.5 mencapai 249,6 mikrogram per meter kubik atau berada di kategori sangat tidak sehat.

Lonjakan tersebut diduga dipicu akumulasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah sekitar ibu kota Kalimantan Tengah.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, sejak status Siaga Darurat Karhutla diberlakukan pada 1 Juni hingga 26 Juli 2026, tercatat sudah terjadi 109 kejadian karhutla dengan total lahan terbakar mencapai 54,44 hektare.

Prakirawan Cuaca BMKG Tjilik Riwut Palangka Raya, Neng Arini Nur P, mengatakan potensi kebakaran hutan dan lahan masih tinggi karena kondisi cuaca yang cenderung kering dan panas.

Kondisi tersebut berpotensi memicu munculnya titik api baru yang dapat memperparah kabut asap dan menurunkan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan.

Paparan PM2.5 pada level sangat tidak sehat berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serangan asma, hingga memperburuk penyakit paru-paru dan jantung. Kelompok yang paling rentan terdampak antara lain balita, anak-anak, lansia, serta ibu hamil.

BMKG mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang dapat memicu kebakaran. Warga juga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan. (Red/jn)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *