NewsPemkab PulpisPilkada

Ketua PWI Pulpis : Peran Media Harus Netral dan Jadi Pengawas di Pilkada

×

Ketua PWI Pulpis : Peran Media Harus Netral dan Jadi Pengawas di Pilkada

Sebarkan artikel ini
Foto: Ketua PWI Kabupaten Pulang Pisau, Juandi.(tn)

Pulang Pisau, Nusaborneo.com -Peran Media saat ini sangat diperlukan pada memontum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2024. Selain harus menjaga netralitas, media juga bisa menjadi fungsi pengawasan agar Pemilihan Bupati Pulang Pisau (Pilbup Pulpis) maupun Pemilihan Gubernur Kalimantan Tengah (Pilgub Kalteng)  berjalan aman dan damai.

Hal ini di ungkapkan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pulpis, Juandi saat di bincangi awak media ini, pada Minggu (22/9).

“Wartawan/media masa, baik cetak, elektronik, dan on-line di harapkan netral di Pilkada. Silahkan untuk menulis di media masing-masing, tapi artinya kedua belah pihak harus di beritakan. Jangan timpang sebelah demi menjaga Marwah wartawan yang sesuai dengan kode etik jurnalistiknya dan undang undang Pers No 40 Tahun 1999,” ujarnya.

Lebih lanjut Juandi, mengatakan kalau pengawas Pemilu hanya mengawasi seluruh proses dan tahapan Pemilu, tetapi media melakukan fungsi pengawasan yang lebih luas. “Karena itu, sangat tepat, apabila pengawas Pemilu menjadikan media sebagai mitra strategis, karena media mempunyai kekuatan (power), terutama karena media bisa membentuk opini publik dan melakukan persuasi,” tambahknya.

Karena itu, kata dia partai politik yang berafiliasi atau memiliki akses terhadap media, maka partai politik tersebut mempunyai kekuatan ganda. Partai politik sendiri adalah sebuah kekuatan politik, dan kalau partai politik didukung oleh media, maka kekuatannya berlipat ganda. Karena itu, dalam hajatan Pemilu dan pemilihan kepala daerah, partai politik atau kandidat yang didukung oleh media, biasanya selalu unggul dalam meraih dukungan suara dari masyarakat.

Juandi mengingatkan, sebagai salah satu infrastruktur politik, media sangat dominan pengaruhnya dalam penyelenggaraan Pemilu dan Pemilihan sebagai sarana demokrasi. Karena itu, media harus diarahkan sebagai bagian penting untuk mengawal kematangan berdemokrasi di Indonesia.

“Sebuah demokrasi yang matang, tergantung pada keberadaan elektorat (konstituennya) yang terdidik, yang terinformasi, dan terkoneksi dengan legislatifnya. Elektorat yang terdidik seperti itu dapat dibentuk melalui media. Hal tersebut disebabkan karena kuatnya fungsi media, baik sebagai pemberi informasi maupun sebagai sarana pendidikan, persuasi, hiburan, pembentukan opini publik, agenda setting, dan kontrol sosial,” tutup Juandi.(tn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *